'

Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Makalah Objek Kajian Filsafat


MAKALAH
OBJEK KAJIAN FILZAFAT
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA           : AKBAR
NIM               : 1332041018
JURUSAN     : PENDIDIKAN KEPELATIHAN  OLAHRAGA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
1. Latar Belakang
Pengertian filsafat yang lebih detail tetapi bagi yang sudah tahu tentag jika ingin membaca posting ini juga tidak saya larang untuk membacanya. Brubacher menjelaskan pengertian filsafat secara etimologi sebagai berikut:
Philosophy was, as its etymology from the greekword filos and sofis, suggest, love of wisdom or learning. More over it was love of learning in general, it sub-sumed under one heading what today we call sciences as well as what we now call philosophy. It is for this reason that philosophy is often referred to as the as the mother as well as the queen of this sciences (Brubacher), 1962:20).
Filsafat berasal dari perkataan Yunani yaitu filos dan sofia yang berarti cinta kebijaksaan atau belajar, ilmu pengetahuan. Lebih dari itu dapat diartikan cinta belajar pada umumnya, dalam proses pertumbuhan ilmu-ilmu (sciences) hanya ada di dalam apa yang kita sebut sekarang filsafat. Untuk alas an inilah sering dikatakan bahwa filsafat adalah induk atau ratu ilmu ilmu pengetahuan.
Runes dalam “Dictionary of philosophy” menerangkan sebagai berikut: Philosophy (Gr. Philein, to love, sophis, wisdom): the most general sciences: seeking of wisdom and wisdom sought originally, the rational explanation of anything, the general principles under which all facts could be explained. In this sense indistinguishable from science, … now, populary, the science, the criticism and systematization or organization of all knowledge, drawn from empirical science, rational learning, common experience, or wherever.
Filsafat berasal dari kata Yunani Philein, cinta, Sophia, kebijaksaan yakni ilmu yang aling umum yaitu usaha mencari kebijaksaan asalnya, penjelasan rasional dari sesuatu, prinsip-prinsip umum yang menerapkan segala fakta, dalam artian tidak dapat dibedakan denganscience. Secara popular diartikan sebagai ilmu dari pada ilmu, kritik dan sistematika atau organisasi dari semua ilmu pengetahuan yang berasal dari ilmu empiris, pelajaran yang rasional, pelajaran biasa atau dimanapun.
Brauner dan burns dalam buku “Problem in education and philosophy” menyatakan: To ask “what is philosophy?” is usually to ask “what is the subject matter or philosophy?”. In one sense the sense of considering what philosopher have or used as their subject matter-the answer to that question must be “anything,……” (Brauner and Burn, 1965:7).
Bertanya tentang apakah filsafat itu, biasanya sama dengan menanyakan apakah materi atau objek filsafat itu. Dalam satu pengertian-pengertian apakah yang di ambil atau dipakai oleh ahli filsafat itu sebagai materi-jawabagn atas pertanyaan tersebut pastilah “sesuatu, segala sesuatu,......” menurut brauner dan burn, maka arti filsafat dapat dipahami dengan mengetahui apakah objek filsafat itu, apakah yang diselidiki oleh filsafat. Dengan dasar ini, maka kami mengangkat tema tentang bagaiamana objek filsafat yang ada pada dunia filosofi.

      2.  Objek Filsafat
Isi filsafat ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan. Objek yang dipikirkan oleh filsafat ialah segala yang ada dan mungkin ada. ”Objek filsafat itu bukan main luasnya”, tulis Louis Katt Soff, yaitumeliouti segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia. Oleh karena itu manusia memiliki pikiran atau akal yang aktif, maka manusia sesuai dengan tabiatnya, cenderung untuk mengetahui segala sesuatu yang ada dan mungkin ada menurut akal piirannya. Jadi objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya.
Para ahli menerangkan bahwa objek filsafat itu dibedakan menjadi dua, yaitu objek material dan forma. Objek material ini banyak yang sama dengan objek material sains. Sains memiliki objek material yang empiris. Filsafat menyelidiki onjek filsafat itu juga tetapi bukan bagian yang empiris melainkan bagian yang abstrak. Sedang objek forma filsafat tiada lain ialah mencari keterangan yang sedalam-dalamnya tentang objek materi filsafat (yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada).
Dari uraian yang tertera diatas, maka jelaslah bahwa:
      1.      Objek materia filsafat ialah sarwa-yang-ada yang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga persoalan pokok, yakni:
                              a.       Hakekat Tuhan
b.      Hakekat Alam, dan
                              c.       Hakekat Manusia.
2.      Objek forma filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya sampai ke akhirya) tentang objek materi filsafat (sarwa-yang-ada).
Penyelidikan dan Pembagian Filsafat Menurut Objeknya
Dalam buku Filsafat Agama: Titik Temu Akal dengan Wahyu karangan Dr. H. Hamzah Ya’qub dikatakan bahwa objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya. Di sinilah diketahui bahwa sesuatu yang ada atau yang berwujud inilah yang menjadi penyelidikan dan menjadi pembagian filsafat menurut objeknya ialah:
      a.      Ada Umum
Adalah menyelidiki apa yang ditinjau secara umum. Dalam realitanya terdapat bermacam-macam yang kesemuanya mungkin adanya. Dalam bahasa Erops, Ada Umum ini disebut “Ontologia” yang berasal dari kata Yunani “Onontos” yang berarti ada dan dalam bahasa arab sering menggunakan Untulugia dan ilmu kainat.
      b.      Ada Mutlak
Adalah sesuatu yang secara mutlak yakni zat yang wajib adanya, tidak tergantung kepada apa dan siapapun juga. Adanya tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan dan harus terus ada, karena adanya dengan pasti. Ia merupakan asal segala sesuatu. Ini disebut Tuhan. Dalam bahasa Yunani disebut “Theodicea” dan dalam bahasa arab “Ilah atau Allah.
      c.       Comologia
Yaitu filsafat yang mencari hakikat alam, dipelajari apakah sebenarnya alam dan bagaimanakah hubungannya dengan Ada Mutlak. Cosmologia ini ialah filsafat alam yang menerangkan bahwa adanya alam adalah tidak mutlak, alam dan isinya adanya itu karena dimungkinkan Allah. Ada tidak mutlak, mungkin ada dan mungkin lenyap sewaktu-waktu pada suatu masa.
      d.      Antropologia
Antropolgia (Filsafat Manusia), karena manusia termasuk ada yang tidak mutlak, maka juga menjadi objek pembahasan. Apakah manusia itu sebenarnya, apakah kemampuan-kemampuannya dan apakah pendorong tindakannya. Semua ini diselidiki dan dibahas dalam Antropolgia.
      e.       Etika
Adalah filsafat yang menyelidiki tingkah laku manusia. Betapakah tingkah laku manusia yang dipandang baik dan buruk serta tingkah laku manusia mana yang membedakannya dengan lain-lain makhluk.
      f.       Logika
Logika ialah filsafat akal budi dan biasanya juga disebut mantiq. Akal budi adalah yang terpenting dalam penyelidikan manusia untuk mengetahui kebenaran. Tanpa kepastian tentang logika, maka semua penyelidikan tidak mempunyai kekuatan dasar. Tegasnya tanpa akal budi maka tidak akan ada penyelidikan. Oleh karena itu, dipersoalkan apakah manusia mempunyai akal budi dan dapatkah akal budi itu mencari kebenaran. Dengan segera timbul pula soal, apakah kebenaran itu dan sampai dimanakah kebenaran dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Maka penyelidikan akal budi itu disebut Filsafat Akal Budi atau Logika. Penyelidikan bahan dan aturan brpikir disebut ilogica minor, adapun yang menyelidiki isi berpikir disebut logica mayor. Filsafat akal budi ini disebut Epistimologi dan ada pula yang menyebut Critia, sebab akal yang menyelidiki akal.
Adapun objek Filsafat Islam ialah objek kajian filsafat pada umumnya yaitu realitas, baik yang material maupun yang ghaib. Perbedaanya terletak pada subjek yang mempunyai komitmen Qur’anik. Dalam hubungan ini objek kajian filsafat dalam tema besar adalah Tuhan, alam, manusia dan kebudayaan. Tema besar itu hendaknya dapat dijabarkan lebih spesifik sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga dapat ditarik benang merah dari perkembangan sejarah pemikiran kefilsafatan yang hingga sekarang. Setiap zaman mempunyai semangatnya sendiri-sendir
Dari uraian pembahasan di atas penulis dapat disimpulkan bahwa objek material filsafat adalah sarwa-yang-ada yang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga persoalan pokok, yakni hakekat Tuhan, alam, dan Manusia. Sedangkan objek fformal filsafat adalah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya sampai ke akhirya) tentang objek materi filsafat (sarwa-yang-ada).
Penyelidikan dan menjadi pembagian filsafat menurut objeknya ialah sebagai berikut:
a.       Ada Umum adalah menyelidiki apa yang ditinjau secara umum.
b.      Ada Mutlak adalah sesuatu yang secara mutlak yakni zat yang wajib adanya.
c.       Comologia yaitu filsafat yang mencari hakikat alam.
d.      Antropologia (Filsafat Manusia), karena manusia termasuk ada yang tidak mutlak, maka juga menjadi objek pembahasan.
e.       Etika adalah filsafat yang menyelidiki tingkah laku manusia.
f.       Logika ialah filsafat akal budi dan biasanya juga disebut mantiq. Akal budi adalah yang terpenting dalam penyelidikan manusia untuk mengetahui kebenaran. Maka penyelidikan akal budi itu disebut Filsafat Akal Budi atau Logika.
Dari keterangan diatas dapat dikatakan bahwa objek filsafat itu sama dengan objek ilmu pengetahuan bila ditinjau secara material dan berbeda bila secara forma.

DAFTAR PUSTAKA
A. Hanafi, MA., Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1990)
Dr. Ahmad Tafsir., Filsafat Umum; Akal dan hati Sejak Thales Sampai james,  (Bandung, PT. Remaja Rosda Jarya, 1990)
Prof. Dr. H. Abu Bakar Aceh, Sejarah Filsafat Islam, (Semarang, Ramadhani, 1982)
Dr. H. Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama: Titik Temu Akal dengan Wahyu, (Jakarta, Pedoman Ilmu Jaya, 1992)
Prof. Dr. Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta, Bulan Bintang, 1987)
H. Endang Saifuddin Anshari, MA., Ilmu, Filsafat dan Agama, (Surabaya, Bina Ilmu, 1991)
Ahmad Fu’ad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Jakarta, Pustaka Firdaus, 1988
Dr. H. Musa Asy-Arie, Filsafat Islam; Kajian Ontologis, Epistimologi, Aksiologi,
 
Terimah Kasih atas kunjungan Ta' semoga artikel ini bermamfaat... @Wassalam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Makalah Objek Kajian Filsafat"