'

Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Biografi Singkat Para Sahabat Rasulullah: Fairus Ad-Dailamy radhiallahu anhu



Rasulullah SAW bersabda, "Fairus seorang yang diberkati, berasal dari keluarga yang penuh berkah." Sekembalinya dari Haji Wada', Rasulullah SAW sakit. Berita tentang sakitnya Rasulullah ini pun menyebar ke seluruh Jazirah Arab. Tiga orang tokoh yang berpengaruh murtad dari agama Islam begitu mendengar berita tersebut.
Mereka adalah Aswad Al-Ansy di Yaman, Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah, dan Thulaihah binti Khuwailid Al-Asady di perkampungan Bani Asad. Ketiganya mengklaim diri sebagai nabi yang diutus kepada kaumnya, sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang diutus ke Quraiys. Aswad Al-Ansy adalah tukang tenung yang menyebar kejahatan dengan mengelabui korbannya dengan mempergunakan musya'widz (semacam alat sulap untuk menyihir mata orang). Al-Ansy bertubuh kekar dan kuat, pandai bicara dan menyesatkan orang. 
Ketika itu pemerintahan di Yaman dipegang oleh golongan "Abna" yang kelapai oleh pemimpin mereka, Fairus Ad-Dailamy, sahabat Rasulullah SAW. Abna adalah nama untuk golongan masyarakat Yaman. Bapak mereka orang Persia yang merantau jauh dari negeri mereka, dan ibu-ibu mereka adalah orang Arab. Raja Yaman saat itu adalah Badzan. Ketika Islam memperluas dakwahnya, Badzan menjadi raja sekaligus kekuasaan Kisra, Kaisar Persia.
Orang yang mula-mula menjadi pengikut gerakan Aswad Al-Ansy adalah kaumnya sendiri, Bani Madzij. Dengan pengikut-pengikutnya itu, mula-mula Aswad menerkam Sana'a. Syahar, putra Badzan, dibunuhnya. Istri Syahar, Putri Dadzan, dikawininya dengan paksa. Dari Sana'a, Aswad Al-Ansy menyerang daerah-daerah lain, sehingga dalam tempo singkat derah yang luas bertekuk lutut di bawah kekuasaannya.
Daerah kekuasaan Aswad Al-Ansy hampir mencapai seluruh daerah antara Hadhramaut sampai Thaif, dan antara Bahrain sampai Aden. Ketika Rasulullah mendapat laporan tentang gerakan Aswad Al-Ansy yang murtad dan mencaplok Yaman, beliau mengutus sepuluh orang sahabat membawa surat kepada para sahabat yang dianggap pantas di Yaman. 
Isi surat tersebut memerintahkan mereka untuk bertindak menumpas bencana yang membahayakan iman dan Islam. Beliau memerintahkan agar menyingkirkan Aswad Al-Ansy. Setiap sahabat yang menerima surat perintah tersebut, segera tergugah untuk melaksanakannya. Orang yang mula-mula bertindak melaksanakan perintah Nabi adalah Fairus Ad-Dailamy. Fairus kemudian menemukan Dadzan, saudara sepupunya. Setelah itu mereka berdua menemui Qais dan menunjukkan surat Rasulullah kepadanya. Mereka juga mengajak Qais segera bertindak sebelum terlambat. Qais dengan senang hati menerima ajakan mereka. Bahkan ia berjanji akan menumpas Aswad dari dalam. 
Dadzan adalah putri paman Fairus yang dikawini secara paksa oleh Aswad setelah membunuh suaminya, Syahar bin Badzan. Dialah yang memegang peran penting dalam pembunuhan Aswad sang nabi palsu. Dadzan kemudian menceritakan seluk beluk istana, ketika Fairus mengunjunginya. Ternyata tiap ruang di istana Aswad dipenuhi para pengawal. 
Hanya satu bangunan dalam istana itu yang tidak dikontrol, yakni sebuah ruang dalam puri. Kamar tersebut tidak dikontrol karena telah dikelilingi parit dan terletak agak jauh. "Dari sini ke sana ada lapangan. Bila malam sudah mulai gelap, lubangilah dinding kamar itu. Nanti kamu akan memperoleh senjata dan lampu di dalam. Aku akan menunggumu di sana. Sesudah itu masuklah ke ruang dalam, maka bunuhlah dia!" kata Dadzan pada Fairus. "Tetapi melubangi dinding tembok seperti puri ini bukanlah pekerjaan yang mudah. ​​Jika kebetulan ada orang lewat, tentu dia akan berteriak memanggil pengawal. Akibatnya akan buruk sekali ..." kata Fairus sedikit keberatan. "Kamu benar! Tapi aku memiliki pikiran lain yang lebih baik." "Apa itu?" "Besok pagi," kata Dadzan, "Kirim kepadaku seorang yang kamu percaya untuk menjadi karyawan. Aku akan menyuruhnya membuat lubang dari dalam , namun tidak sampai tembus. Tinggalkan setipis mungkin, supaya kamu dapat mencoblosnya dengan mudah malam hari. " "Cara yang baik sekali," timpal Fairus.
Setelah itu, Fairus pergi memberitahu rekan-rekannya tentang rencana yang telah disepakati dengan Dadzan. Mereka pun menyiapkan segala sesuatunya, bertindak dengan sangat hati-hati dan rahasia serta mengatur kata-kata sandi. Aksi akan dilakukan esok hari di waktu fajar. Ketika malam mulai gelap, dan waktu yang ditentukan sudah tiba, Fairus dan temannya pergi ke sasaran. Dinding yang dimaksud berhasil ditembus dengan mudah. Mereka kemudian masuk ke dalam gudang dan mengambil senjata yang telah disiapkan Dadzan. 
Setelah itu mereka mengelilingi puri Aswad. Dadzan telah berdiri di muka pintu. Dia memberi isyarat kepada Fairus dan temannya. Begitu masuk kamar, mereka menemukan Aswad tengah tidur mendengkur. Fairus kemudian mengayunkan pedangnya ke leher Aswad yang membuatnya melenguh seperti sapi, kemudian mengelepar-gelepar. Ketika pengawal mendengar lenguhan Aswad, mereka datang ke puri lalu bertanya pada Dadzan, "Ada apa?" "Tidak ada apa-apa. Kembalilah kalian! Nabi Allah sedang mendapat wahyu," kata Dadzan. Para pengawalpun kembali tanpa kecurigaan sedikit pun. 
Fairus dan temannya tetap berada di istana sampai fajar. Setelah terbit fajar, Fairus naik ke sebuah pilar lalu berseru lantang, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah. Dan aku bersaksi bahwwa Aswad Al-Ansy sesungguhnya adalah seorang pendusta" Kalimat terakhir adalah sandi yang telah mereka disepakati Fairus dengan teman Muslim lainnya. 
Mendengar teriakan Fairus, kaum Muslimin berhamburan ke istana dari segala penjuru. Para pengawal terkejut kebingungan. Perang tanding pun berkecamuk di pagi buta itu. Fairus kemudian bergegas kembali ke puri dan mengambil kepala Aswad yang telah lepas dari tubuhnya. Begitu kembali ke tengah pertempuran, ia langsung melempar kepala itu ke arah para pengawal istana.
Melihat kepala Aswad menggelinding di hadapan mereka, nyali prajurit istana langsung ciut. Sebaliknya kaum Muslimin kian bersemangat menyerbu dan menyerang musuh-musuh Allah. Pertempuran pun usai, dengan kemenangan di pihak Muslimin. Begitu matahari mulai menebar kehangatan cahayanya, Fairus menulis surat kepada Rasulullah SAW, menyampaikan kabar gembira bahwa musuh-musuh Allah telah ditumpas habis. "Namun ketika utusan kami sampai di Madinah, mereka menemukan beliau telah berpulang ke Rahmatullah," kata Fairus lirih. 
Rasulullah SAW wafat tidak lama setelah menerima wahyu yang mengabarkan bahwa Aswad Al-Ansy telah terbunuh persis saat kejadian. Maka beliau bersabda kepada para sahabat, "Aswad Al-Ansy telah meninggal tadi malam, dibunuh oleh orang yang penuh berkah dan berasal dari rumah tangga yang diberkahi." "Siapa orang itu, wahai Rasulullah?" tanya para sahabat. Beliau menjawab, "Fairus ... Fairus menang!"


Sumber: Buku Sahabat-Sahabat Rasulullah Sallallahu alai’hi wasallam
Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biografi Singkat Para Sahabat Rasulullah: Fairus Ad-Dailamy radhiallahu anhu"