'

Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم
Menguatkan Kesabaran di Atas Ujian

Menguatkan Kesabaran di Atas Ujian



 
OlehUstadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu 
(Direktur Markaz Imam Malik)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (QS. Ali Imraan 200).
Surah ini ditutup dengan perintah dan nasehat, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:” “Jika engkau mendengar firman Allah (Wahai orang-orang yang beriman) maka pasanglah telingamu karena akan datang ayat kebaikan yang engkau diperintahkan untuk melaksanakannya atau kejelekan yang engkau dilarang darinya”.
Ayat ini merupakan seruan Allah kepada orang – orang yang beriman, Sebagian ulama berkata dengan ayat tersebut:”Bersabarlah kalian dari meninggalkan kemaksiatan kepada Allah  dan kuatkanlah kesabaran kalian didalam menjalankan ketaatan kepada Allah”, Ar Ribath dalam bentuk ibadah kepada Allah disebutkan dalam hadist.

قال رسول صلى الله عليه وسلم : ( ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ، ويرفع به الدرجات ؟) قالوا بلى يا رسول الله ، قال : ( إسباغ الوضوء على المكاره ، وكثرة الخطا إلى المساجد ، وانتظار الصلاة بعد الصلاة ، فذلكم الرباط ) رواه مسلم(137) .

“Rasulullah Shalallahu’alihi wasallam bersabda:”Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amal yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa, dan mengangkat derajat?” mereka berkata ya wahai rasulullah, beliau bersabda:”Sempurnakanlah wudhu walaupun dalam keadaan tidak menyenangkan, perbanyak langkah menuju ke masjid, menunggu sholat setelah sholat, kemudian ribath (berjaga-jaga di perbatasan musuh)”. (HR. Muslim 137).
Dengan kesabaran pada ayat diatas menunjukkan bahwasanya kita akan beruntung mendapatkan apa yang kita inginkan dan menyelamatkan diri dari apa yang kita takutkan. oleh karenanya Al-Falah (keberuntungan) adalah mendapatkan apa yang diinginkan dan diharapkan.
Oleh karenanya bersabar mulai dari sekarang dari ketaatan kepada Allah dan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah karena kesabaran hanya sampai pada umur yang Allah berikan kepada kita, sedang kita tidak tahu kapan kita kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Dalam Ayat Yang Lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah : 155).
Perlu untuk diketahui bahwa Allah tidak menguji hambanya diluar dari kemampuannya, sebagaimana firman Allah:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya“. (QS. Al-Baqarah : 286).
Jika kita mengingat ayat ini maka tidak akan ada orang yang bunuh diri kerena dia yakin kepada Allah sedang Allah tidak menyelisihi janjinya. Ketika ada masalah yang menghimpit dalam kehidupan kita maka ada kadar atau batasannya dari ujian tersebut karena Allah tidak akan membinasakan hambanya dengan ujian yang diberikan kepadanya.
Ulama kita mengatakan:”Ibadah yang paling mulia adalah menunggu solusi dan jawaban dari Allah Subhanahu wata’ala”.
Allah mendahulukan “Rasa takut” dari pada “Kelaparan” karena nikmat keamanan adalah nikmat yang paling besar, ketika manusia lapar bisa keluar mencari rezeki adapun jika tidak aman maka manusia tidak bisa keluar mencari rezeki, olehnya Allah Subhanahu wata’ala berfirman

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”. (QS. Quraisy: 4).
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Barangsiapa yang tiba dipagi hari yang merasakan keamanan , tidak ada gangguan pada tubuhnya, dirinya, keluarganya , harta bendanya, ia beraktifitas tubuhnya sehat , lalu ada makanan yang bisa ia nikmati hari itu, sungguh seakan akan dunia dan isinya telah dibentangkan untuknya”.
Sebagaimana saudara kita dirohingya mereka diberi ujian oleh Allah dengan rasa takut dan semoga Allah memasukkan ketenangan dalam hati – hati mereka.
Dalam ujian kesabaran dibutuhkan pada pukulan pertama (awal terjadinya ujian) karena inti pahala ada pada saat tersebut  bukan setelah berjalan beberapa hari, karena jika sudah berjalan beberapa hari tidak akan ada bedanya antara yang satu dengan yang lain. Seorang hamba yang bersabar sejak awal atau yang meratap sejak awal sehingga selang beberapa hari ia kembali tenang seperti biasa maka ia bersabar diawal terjadinya ujian karena pada saat itulah dibutuhkan kesabaran.
Salah seorang salaf pernah makan siang, maka datanglah seorang yang memberi kabar tentang saudaranya  yang telah meninggal, namun ia masih santai dengan menyantap makanan yang ia makan bahkan memanggil orang yang memberi kabar untuk makan bersamanya, ia kemudian ikut makan lalu berkatalah orang yang diberi kabar:”Saya sudah dengar sebelum engkau datang”, ia kemudian heran dan berkata:”Siapa yang datang, karena saya yang diutus dan tidak ada yang lain”, ia berkata:”Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:”Semua manusia akan merasakan kematian”,.
Bersabar Dibangunkan Istana di Surga 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan bila anak seorang hamba meninggal, maka Allah berfirman kepada malaikat dan Allah lebih tahu apa yang terjadi, tetapi Allah ingin menggambarkan bagaimana rahmat dan kebesaran Allah, Allah bertanya kepada malaikat pencabut nyawanya:“Kalian telah mencabut nyawa anak hambaKu?”. Malaikat menjawab:“Iya”. Kemudian Allah mengatakan:“Kalian cabut buah hatinya?, kalian matikan buah hatinya?”. Kata malaikat: “Iya, Ya Allah”. Allah bertanya:“Apa yang dikatakan hambaKu?”. Allah lebih tahu dengan apa yang dikatakan hambaNya, tetapi Allah bertanya disini kepada malaikatNya:“Bagaimana sikap hambaKu itu ditinggal mati oleh anaknya?”. Para malaikat itu mengatakan:“Dia memujimu ya Allah. Dan dia beristirja. Dan dia tahu bahwasanya dia milikMu, akan kembali kepadaMu. Dia memujiMu dan mengatakan Innalillahi wa innaillaihi rajiun. Itu yang dikatakan hambaMu Ya Allah”. Maka Allah mengatakan kepada para malaikatNya:“Bangunkan rumah buat hambaKu ini. Buatkan rumah untuk satu orang ini. Yang dia memujiKu atas musibah yang menimpanya. Yang dia kemudian mengatakan innalillahi wa innaillaihi rajiun. Bangunkan rumah untuk hambaKu ini dan beri nama rumah itu, rumah pujian”.
Salah satu cara untuk mendapatkan istana disurga adalah bersabar dari musibah. Ketika ditimpa sebuah ujian maka yang harus dilakukan adalah:
1.      Memuji  Allah Subhanahu wata’ala
2.      Mengucapkan istirja : Innalillahi wa innaillaihi rajiun
3.      Berdoa :
“Ya Allah berilah pahala dari musibah yang menimpaku ini dan berilah ganti yang lebih baik dari apa yang engkau ambil dariku”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Siapa yang mengucapkan doa ini maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari apa yang diambil darinya”, Boleh jadi  Allah mengganti dengan yang zhahir sebagaimana Ummu Salamah, ketika suaminya Abu Salamah meninggal dan mengingat hadist ini dan mengucapkannya karena beriman kepada Rasulullah, setelah habis masa iddahnya datanglah utusan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melamarnya, sehingga beliau dinikahi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”. Boleh jadi bukan secara zhahir melainkan Allah menggantinya dengan pahala yang besar disisinya pada hari kiamat, sebagaimana dalam riwayat disebutkan orang yang melihat pahala pada hari kiamat dari kesabarannya ketika didunia dari musibah yang menimpanya, ia kemudian berkata:”Andaikan hidupku didunia penuh dengan musibah”,
4.      Tingkatan Sikap Manusia Terhadap Ujian
Dibolehkan menangis ketika berduka akan tetapi jaga lisan karena Rasulullah menyampaikan bahwasanya malaikat mengaminkan apa yang kalian katakan hendaklah mengatakan kebaikan. Dalam hal ini manusia terbagi 4 tingkatan terhadap ujian:
1.      Dia Murka
Dia meluapkan marahnya baik dengan lisannya, hatinya, atau dengan perbuatannya. Adapun dengan lisannya dia berteriak sambil mengucapkan perkataan celaka, menuduh Allah tidak adil dan semisal dengannya, begitu pula dengan hatinya yang diikutkan dengan anggota tubuh yang menampar wajah dan muka, merobek baju, membanting sesuatu
2.      Dia bersabar
Hatinya perih dengan mata menangis akan tetapi ia pasrah kepada Allah, sebagaimana yang pernah terjadi kepada Rasulullah ketika putranya Ibrahim meninggal, beliau menangis, sahabat sahabat heran bertanya:”Ya Rasulullah anda juga menangis”, Rasulullah kemudian berkata:”Ini adalah rahmah, inilah kasih sayang yang Allah berikan kepada hati – hati  hambanya, sesungguhnya mata menangis, hati bersedih, dan sesungguhnya perpisahan dengamu wahai Ibrahim sangat menyakitkan namun kami tidak mengatakan kecuali yang diridhai oleh tuhan kami”, Innalillahi wainnailaihi rajioun ucapan ini disebut dengan istirja yaitu mengembalikan kepada Allah.
3.      Dia ridha
Dia ridha dengan mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal”.
4.      Dia bersyukur
Dia bersyukur karena telah mengetahui pahalanya disisi Allah Subhanahu wata’ala, ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Dengan kesabaran segala sesuatunya akan dimudahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana kata Rasulullah:”Sesungguhnya pertolongan akan datang bersama kesabaran.” (HR. Ahmad).
Wallahu A’lam Bish Showaab
Sumber: www.mim.or.id   
Read More
‘AIN "Mata Yang Beracun" Sesi 1  (Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I)

‘AIN "Mata Yang Beracun" Sesi 1 (Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I)

OlehUstadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu 
(Direktur Markaz Imam Malik)
Allah mengutus Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menunjukkan kepada kita jalan yang lurus, mengajarkan kepada kita kebaikan yang mendatangkan manfaat dan mencegah kita dari kemungkaran yang bisa mendatangkan mudharat. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلًا كَبِيرًا

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah“. (QS. Al-Ahzab : 45-47).
Jadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai saksi terutama menjadi saksi para Nabi yang telah diutus sebelum beliau, suatu ketika Rasulullah menyuruh Abdullah bin Mas’ud membaca surah An-Nisa kemudian sampai pada firman Allah:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)“. (QS. An-Nisa : 41).
Pada ayat diatas Rasulullah berkata kepada Abdullah Ibnu Mas’ud :”Diam , cukup sampai disini bacaanmu wahai Ibnu Mas’ud”, Abdullah Ibnu Mas’ud berkata:”Saya menengok wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau mencucurkan air mata”,
Jadi Rasulullah diutus dimuka bumi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi kabar peringatan, Nabi memberi kabar gembira dengan kebaikan kepada orang – orang yang beriman dan mengerjakan amalan sholeh, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti kita dan memperingatkan kita dari perkara – perkara yang bisa membahayakan diri kita baik didunia maupun diakhirat.
Tidaklah sesuatu yang mendekatkan diri kita ke surga melainkan telah dijelaskan oleh Rasulullah untuk kita kerjakan dan tidaklah sesuatu yang mendekatkan diri kita ke neraka yang bisa mencelakakan dan membinasakan kita melainkan juga telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita berhati – hati darinya.
Salah seorang sahabat yang bernama Huzaifah Ibnu Yaman Radhiyallahu ‘anhu yang digelari dengan “Shahibul Sir” (Pemegang rahasia Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) sehinggga beliau diberi pengetahuan oleh Allah tentang fitnah dan keburukan yang akan terjadi sebelum diketahui oleh sahabat – sahabat yang lain karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan semua rahasia kepada Huzaifah Ibnu Yaman, Hudzaifah pernah berkata:“Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya”. (HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847).
Kisah Keburukan ‘Ain Yang Pernah Terjadi
Temasuk diantara keburukan adalah ‘Ain, untuk lebih mengetahui bagaimana penyakit ‘Ain maka kita membahas beberapa kisah yang pernah terjadi dizaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan setelahnya.
1.      Pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama dengan beberapa orang sahabat melakukan perjalanan safar dari kota Madinah menuju kota Makkah. Ditengah jalan beliau singgah istirahat bersama dangan sahabat yang lain, salah seorang sahabat yang bernama Sahl bin Hunaif Radhiyallahu ‘anhu mandi disebuah tempat yang sedikit terbuka setelah mandi Sahl bin Hunaif mendinginkan tubuhnya dan nampaklah kulit beliau (jadi ketika beliau mandi ia membuka pakaian atasnya) sehingga dilihatlah kulitnya oleh salah seorang sahabat yang bernama Amir bin Rabi’ah.
Sahl bin Hunaif memiliki kulit yang sangat putih dan mulus, ketika dilihat oleh Amir bin Rabi’ah, ia kemudian berkata:”Saya belum pernah melihat kulit atau tubuh yang sebagus ini yang mengalahkan kulit seorang gadis yang tidak terkena dengan panas matahari”,
Amir bin Rabi’ah mengatakan demikian disertai dengan rasa takjub dan kekaguman yang berlebihan. Sebelum Amir bin Rabi’ah menyelesaikan perkataannya, Sahl bin Hunaif terjatuh dan tidak sadarkan diri maka dilaporkanlah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dibawalah beliau kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi lalu bertanya kepada para sahabat :”Apakah kalian mengetahui seseorang yang menjadi sebab mengapa ia tidak sadarkan diri seperti ini.?”, maka berkatalah salah seorang sahabat:”Kami mendengar Amir bin Rabi’ah ketika melihat ia mandi ia berkata:” Saya belum pernah melihat kulit atau tubuh yang sebagus ini yang mengalahkan kulit seorang gadis yang tidak terkena dengan panas matahari”, sehingga ia jatuh tidak sadarkan diri.
Nabi kemudian marah dan memanggil Amir bin Rabi’ah, maka datanglah Amir bin Rabi’ah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bertanya:”Mengapa salah seorang diantara kalian hendak sengaja membunuh saudaranya, barangsiapa seseorang diantara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, hendaknya ia mendoakan keberkahan untuknya”, Rasulullah kemudian menyuruh Amir bin Rabi’ah untuk mandi dan mencuci bagian dalam tubuhnya dan bagian dalam pakaiannya, kemudian bekas mandi bagian dalam tubuhnya dan bagian dalam pakaiannya itu ditampung dalam sebuah bejana kemudian disiramkan kepada Sahl bin Hunaif, Sahl bin Hunaif kemudian tersadarkan dan kembali sehat seperti sedia kala.
2.      Peristiwa yang lain dimana pernah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemui Asma binti Umais Radhiyallahu ‘anha dan beliau melihat anaknya kecil –kecil dan kurus-kurus, beliau berkata:”Mengapa saya melihat anak keponakanku kecil seperti ini, apakah mereka ini kelaparan, apakah mereka tidak makan”, Asma kemudian mengatakan:”Ya Rasulullah sesungguhnya ‘Ain mendahuluinya”, Rasulullah lalu menyuruh Asma Binti Umais meruqiyahnya dan membacakan ayat – ayat Al-Qur’an kepadanya.
3.      Kisah yang lain, salah seorang raja bernama Sulaiman bin Abdul Malik Rahimahullah, ketika beliau menjabat sebagai khalifah pada usia yang masih sangat belia, suatu hari ia mengenakan pakaian kebesarannya dengan dandanan dan perhiasannya yang indah sebagai salah seorang raja, kemudian ia melihat dirinya dicermin. Lalu ia mengingat raja – raja yang telah mendahuluinya dimana raja – raja yang telah mendahuluinya adalah orang yang berusia lanjut adapun dirinya masih muda, ia kemudian memuji dirinya dengan berkata:”Coba lihat dirimu, masih muda sudah menjadi raja, dia takjub kepada dirinya sendiri, akhirnya belum cukup satu bulan setelah ia memuji dirinya ia meninggal dunia”,
4.      Urwah ibn Zubair Radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai 4 sahabat fuqaha yang diambil ilmunya oleh Imam Malik bin Anas Radhiyallahu anhu, beliau termasuk salah satu qaidah mazhab Imam Malik ibn Anas sebagai fuqaha madinah,  Urwah ibn Zubair Radhiyallahu ‘anhu beliau adalah sahabat yang menghatamkan Al-Qur’an setiap 3 hari.
Suatu hari beliau menjumpai seorang gubernur yang bernama Al Walid bin Abdul Malik sambil membawa anaknya yang masih kecil bernama Muhammad yang memiliki paras wajah yang sangat ganteng, ia dandani anaknya dan mengenakannya pakaian yang sangat indah, ketika ia membawa anaknya tersebut kepada Al Walid bin Abdul Malik akhirnya Al Walid bin Abdul Malik takjub, ia kemudian berkata:”Anak dari mana ini, pakaian apa yang dikenakannya”,   apa yang terjadi.?, setelah keluar dari majelisnya Al Walid bin Abdul Malik anaknya Muhammad naik diatas kendaraannya lalu terjatuh dan tengkuknya terinjak sehingga ia meninggal dunia.
Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam banyak menjelaskan dalam Al-Qur’an dan hadist tentang keburukan ‘Ain, Allah Subhanahu wata’ala menyampaikan salah satu keburukan yang hendak dilancarkan oleh orang – orang kafir kepada Rasulullah untuk menghalangi dakwah beliau bahkan percobaan pembunuhan baik secara nyata maupun tersembunyi dimana beliau pernah disihir dan salah satu diantaranya beliau sengaja hendak dicelakakan dengan ‘Ain. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

 Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila“. (QS. Qalam : 51). Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata:”Yang dimaksud dengan pandangan mereka adalah “Al-‘Ain”,
Hakikat A- ‘Ain
Hakekat Al-‘Ain adalah pandangan mata yang disertai dengan hasad dan ini termasuk jenis Al-‘Ain yang paling berbahaya yaitu pandangan yang disertai dengan hasad, bisa bercampur antara Al-‘Ain dan hasad bisa juga berpisah dalam artian hasad secara umum adalah ketika seseorang berharap nikmat itu hilang dari saudaranya,  adapun Al-‘Ain bisa disebabkan oleh hasad dan bisa disebabkan juga dengan kekaguman yang berlebihan sampai pada dirinya sendiri sebagaimana kisah Sulaiman bin Abdul Malik yang telah kita sampaikan kisahnya diatas.
Dalam sebuah riwayat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwasanya Al-‘Ain  adalah sesautu yang haq yang bisa menimpa diri seseorang bahkan keluarganya, anaknya hartanya. Terkadang seorang ayah dan ibu memuji anaknya ketika ia kagum terhadap penampilannya atau perbuatannya atau seorang suami yang sangat kagum dengan kecantikan istrinya maka berhati- hatilah bisa jadi keburukan ‘Ain, olehnya ketika kita memuji mereka maka hendaknya kita mendoakannya dengan keberkahan dengan berkata:”MasyaAllah Tabarakallah”, atau “MasyaAllah laahawla walaa quwwata illah billah” ucapkan pula istirja ini ketika kita melihat diri kita dicermin kemudian muncul rasa takjub. Jadi ucapkan doa agar kita terhindar dari keburukan Al-‘Ain.
Bersambung (‘Ain Mata Beracun Sesi 2)
Wallahu A’lam Bish Showaab
Sumber: www.mim.or.id   
Read More