'

Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Peran Masjid Dalam Membangun Ukhuwah*

Oleh: Ustadz Muhammad Ode Wahyu, SH.

Ukhuwah islamiyah merupakan pondasi dalam membangun ummat yang kuat. Dengannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membentuk pemerintahan islam yang kuat sehingga mampu menaklukkan beberapa negeri adidaya saat itu. Umat Islam saat ini tidak akan mampu kembali jaya seperti dahulu kecuali dengan cara kambali menempuh jalan yang pernah ditempuh orang-orang terdahulu. Sungguh umat islam memang sangat butuh ukhuwah, khususnya di zaman ini ketika perselisihan dan perpecahan begitu sering terjadi di tubuh kaum muslimin.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membangun peradaban baru di Madinah di mulai dengan mengukhuwahkan (mempersaudarakan) kaum muhajir dan anshar, setelah itu beliau membangun masjid Nabawi sebagai tempat shalat, musyawarah, latihan perang dan lainnya.

Pada dasarnya masjid memiliki peran yang cukup besar dalam membangun ukhuwah islamiyah, sebab ia merupakan tempat berkumpulnya manusia untuk melaksanakan shalat secara berjama’ah. Hanya saja keberadaannya kini tidak terlalu dipahami fungsinya oleh kaum muslimin, sehingga mereka hanya menjadikannya sebagai tempat shalat saja, tidak untuk yang lain. Ketidak pahaman kaum muslimin akan peran masjid dalam membangun ukhuwah juga dapat terlihat ketika pelaksanaan shalat berjama’ah. Perasaan sensitif berlebihan dan ego kadang menjadi hal yang merenggangkan ukhuwah. Hal itu terlihat dari ketidak rapian shaf dalam shalat, posisi yang renggang, tidak rapat, bahkan jaraknya saling berjauhan. Inilah diantara penyebab terkikisnya rasa ukhuwah di tubuh kaum muslimin.

Abi Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ: اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap pundak-pundak kami ketika hendak shalat lalu bersabda, “Luruskan shaf-shaf kalian dan jangan berselisih sehingga hati kalian akan selalu saling berselisih”. (HR. Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ ، أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ

“Lurus dan rapatkanlah shaf-shaf kalian, atau Allah akan membuat kalian saling berselisih”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Lurus dan rapatnya shaf bukanlah perkara remeh, sebab dengannya Allah menguatkan persaudaraan kaum muslimin. Ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada orang-orang yang tidak mau merapatkan shaf kini terbukti, kaum muslimin begitu mudah berselisih dan berpecah belah.

Jika saja kaum muslimin sungguh-sungguh menjadikan masjid sebagai tempat shalat berjama’ah, niscaya ukhuwah kaum muslimin akan semakin kuat. Sebab dari masjid itulah kaum muslimin akan biasa bertemu, saling bertegur sapa dan mengucapkan salam. Hal-hal yang kelihatannya remeh seperti ini justru jika dilakukan terus menerus akan meningkatkan rasa cinta sesama muslim, sehingga rasa ukhuwah semakin kental terasa. Seharusnya masjid memang menjadi tempat shalat berjama’ah, dan tidak dilakukan di rumah masing-masing. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengibaratkan orang-orang yang tidak datang shalat berjama’ah di masjid sebagai orang munafik yang hendak dibakar rumahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh (secara berjama’ah). Andaikan saja mereka mengetahui pahala yang terdapat pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan merayap. Sungguh!! Aku sangat ingin agar shalat segera didirikan kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia shalat, dan aku bersama beberapa orang yang membawa beberapa ikat kayu bakar, pergi ke rumah-rumah manusia yang tidak shalat berjama’ah lalu membakar rumah-rumah mereka”. (HR. Muslim)

Memaksimalkan fungsi masjid demi terbangunnya ukhuwah yang kuat amat penting, karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjadikan masjid sebagai tempat shalat saja, tapi juga mengizinkan kepada para sahabatnya untuk berlatih perang di dalamnya yang memiliki maslahat besar bagi umat.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menutupku dengan kain sementara aku melihat orang-orang Habasyah sedang bermain pedang di dalam masjid”. (HR. Bukhari dan Muslim.)

Syiakh Abdullah Ibn Abdirrahman al-Bassam rahimahullah berkata: “Islam toleran pada perkara-perkara yang memiliki tujuan yang jelas seperti itu, maka diizinkan bagi mereka untuk melakukannya di masjid Nabawi yang mulia”. (Taudhihul Ahkam: 1/396)

Melakukan latihan apa saja yang memliki maslahat untuk umat di dalam masjid atau melakukan amalan yang dapat menguatkan rasa persaudaraan sesama muslim dibolehkan, selama tidak melanggar aturan-aturan syar’i. Diantara amalan yang dapat menguatkan rasa persaudaraan itu ialah menajdikan masjid sebagai tempat mabit (bermalam) untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti qiyamul lail. Perbuatan-perbuatan seperti ini akan menguatkan rasa persaudaraan dan cinta pada kebaikan, serta bukanlah perbuatan haram ataupun makruh.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Diperbolehkan tidur di dalam masjid dan hal itu bukanlah perkara makruh dalam pandangan mazhab kami.

“Imam Syafi’i rahimahullah dan sahabat-sahabat kami berhujjah akan ketidakmakruhannya dengan hadits yang tsabit disebutkan dalam kitab shahihain dari Abdullah Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia berkata, “Dahulu aku tidur di masjid, saat itu aku seorang pemuda yang belum nikah,” juga telah tsabit bahwasanya para ahli shuffah dahulu tidurnya di dalam masjid”. (Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab: 2/173).[].
➡ *Sumber* 👉🏼 http://wahdah.or.id/peran-masjid-dalam-membangun-ukhuwah/

➡ Mohon ketika menyebarkan, harap sertakan sumbernya dan *jgn dihapus* 🙏🏼
💖 Silahkan SEBARKAN dan semoga Allah memberikan PAHALA atas berbagi ilmu ini
📖 Dapatkan artikel islami lainya di 👉 http://wahdah.or.id/

💖 Daftar Broadcast Wahdah.Or.Id
Ketik nama lengkap - daerah - wi
Contoh:
Irhamullah - Yogyakarta - WI
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +6281383787678

👍 Facebook s.id/FBWahdah
📲 Instagram s.id/InstagramWahdah
📩 Telegram s.id/TelegramWahdah
🐣 Twitter s.id/TwitterWahdah
🌐 www.wahdah.or.id

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Peran Masjid Dalam Membangun Ukhuwah*"