'

Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم
Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Semua Perbuatan Bid'ah Ditolak

Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Semua Perbuatan Bid'ah Ditolak

Kajian Hadits

HADITS KELIMA

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


Kosa kata / مفردات :
أحدث : Mengada-ada ردٌّ : Tertolak

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya ), maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
1. Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil syar’i ditolak dari pelakunya.
2. Larangan dari perbuatan bid’ah yang buruk berdasarkan syari’at.
3. Islam adalah agama yang berdasarkan ittiba’ (mengikuti berdasarkan dalil) bukan ibtida’ (mengada-adakan sesuatu tanpa dalil) dan Rasulullah  telah berusaha menjaganya dari sikap yang berlebih-lebihan dan mengada-ada.
4. Agama Islam adalah agama yang sempurna tidak ada kurangnya.

Tema-tema hadits / موضوعات الحديث :
1. Kesempurnaan Islam : 5 : 3,
2. Bid’ah dan taklid : 57 : 27, 17 : 36

             💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Takdir Manusia Telah Ditetapkan

Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Takdir Manusia Telah Ditetapkan

Kajian Hadits

HADITS KEEMPAT

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا . [رواه البخاري ومسلم


Kosa kata / مفردات :
حدثنا : menyampaikan (kpd kami) خَلْقه : penciptaan(nya)
بطن : perut نطفة : setetes mani
علقة : setetes darah مضغة : segumpal daging
المَلَكَ bentuk tunggal dari ملائكة يَنْفُخُ : Meniup
أجله : kematian (nya) شقيٌّ : Celaka
سعيد : bahagia ذراع : hasta (jarak antara
يسبق : mendahului telapak tangan dan siku)
Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga maka masuklah dia ke dalam syurga. (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
1. Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan.
2. Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk syurga atau neraka, akan tetapi amal perbutan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.
3. Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).
4. Disunnahkan bersumpah untuk mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.
5. Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hatinya karenanya.
6. Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.
7. Sebagian ulama dan orang bijak berkata bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.

Tema-tema hadits / موضوعات الحديث :
1. Pengorbanan seorang ibu yang mengandung : 31 : 14
2. Teori reproduksi manusia : 22 : 5, 23 : 14
3. Takdir : 57 : 22, 64 : 11
4. Husnul khotimah : 2 : 132, 4 : 18

              💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Pintu Terdekat untuk Menuju Allah Ta’ala

Pintu Terdekat untuk Menuju Allah Ta’ala

Kita sering berpikir dan mengukur kedudukan kita di hadapan sesama manusia. Dan itu sah-sah saja. Seorang istri memikirkan dan mengukur, seberapa berartikah dirinya di hadapan suami, orang tua, anak-anak, keluarga, masyarakat dan tempatnya beraktivitas.

Seorang laki-laki mengukur dan memikirkan dimanakah posisinya di hadapan orang tua, istri-istri, anak-anak, keluarga, kaum Muslimin, masyarakat sekitar, atau tempat kerjanya. Itu sah-saha saja.

Sayangnya, kondisi ini tidak disertai dengan pemikiran dan pengukuran terhadap kondisinya sebagai seorang hamba di hadapan Allah Ta’ala. Apakah selama ini kita telah menjadi hamba yang baik? Apakah kita bergegas melakukan semua perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan seluruh larangan-Nya? Apakah masih banyak berpkir seraya menimbang? Atau justru banyak membantah atas nama pongah dan kesombongan yang bersemayam di dalam sanubari?

Ketahuilah wahai diri, tiada yang mengetahui kedudukannya di sisi Allah Ta’ala kecuali Dia Yang Maha Mengetahui. Hanya Dia yang mengetahui apakah seorang hamba dinilai mulia, dicintai, dan disediakan baginya surga ataukah hina, dimurkai, dan berhak mendapatkan siksa neraka lengkap dengan seluruh kepedihan dan kesengsaraan di dalamnya?

Hanya Dia Yang Maha Mengetahui. Dan tiada secuil pun pengetahuan bagi diri terkait hal ini.

Oleh karena ketidaktahuan itu pula, kita harus senantiasa memperbaiki iman dan memperbagus amal shalih kemudian memperbanyaknya. Kita harus menuntut imu untuk melakukan amal shalih. Sebab ilmu menjadi syarat bagi amal yang diterima bersamaan dengan ikhlas di dalam sanubari.

Ilmu itu pula yang akan membimbing kita menuju pintu terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ialah jalan-jalan yang direkomendasikan oleh para Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam, sahabat-sahabat, dan orang shalih setelahnya.

Salah satunya ialah yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah terkait pintu yang paling dekat untuk menuju Allah Ta’ala.

“Aku mengetuk beberap pintu untuk menuju Allah Ta’ala,” tulis Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah sebegaimana dikutip oleh Dr ‘Umar ‘Abdul Kafi dalam al-Wa’dul Haq, “untuk menemukan pintu yang paling dekat menuju kehadirat-Nya.”

Setelah lama melakukan pencarian, laki-laki shalih penulis kitabMadarijus Salikin ini memungkasi, “Akhirnya aku menemukan pintu yang paling dekat menuju Allah Ta’ala, ialah merasa rendah diri di hadapan-Nya.”

Ya. Jangan sombong. Tak usah membanggakan diri. Rendahkan dirimu di hadapan-Nya, niscaya Dia akan memuliakan kita. Aamiin.

Wallahu a’lam.

             💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Rukun Islam

Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Rukun Islam

HADITS KETIGA

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ. رواه الترمذي ومسلم


Kosa kata / مفردات :
سمعتُ : (saya) mendengar بُنِيَ (بَنَى) : Dibangun

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Alh- Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
1. Rasulullah SAW menyamakan Islam dengan bangunan yang kokoh dan tegak diatas tiang-tiang yang mantap.
2. Pernyataan tentang keesaan Allah dan keberadaannya, membenarkan kenabian Muhammad , merupakan hal yang paling mendasar dibanding rukun-rukun yang lainnya.
3. Selalu menegakkan shalat dan menunaikannya secara sempurna dengan syarat rukunnya, adab-adabnya dan sunnah-sunnahnya agar dapat memberikan buahnya dalam diri seorang muslim yaitu meninggalkan perbuatan keji dan munkar karena shalat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.
4. Wajib mengeluarkan zakat dari harta orang kaya yang syarat-syarat wajibnya zakat sudah ada pada mereka lalu memberikannya kepada orang-orang fakir dan yang membutuhkan.
5. Wajibnya menunaikan ibadah haji dan puasa (Ramadhan) bagi setiap muslim.
6. Adanya keterkaitan rukun Islam satu sama lain. Siapa yang mengingkarinya maka dia bukan seorang muslim berdasarkan ijma’.
7. Nash diatas menunjukkan bahwa rukun Islam ada lima, dan masih banyak lagi perkara lain yang penting dalam Islam yang tidak ditunjukkan dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda:
الإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً
“ Iman itu terdapat tujuh puluh lebih cabang “
8. Islam adalah aqidah dan amal perbuatan. Tidak bermanfaat amal tanpa iman demikian juga tidak bermanfaat iman tanpa amal .

Tema-tema hadits / موضوعات الحديث :

1. Wala’ dan Bara’ dalam syahadatain : 2 : 256, 16 : 36
2. Shalat : 2 : 3, 19 : 31, 20 : 132,
3. Zakat : 9 : 71, 19 : 55, 73 : 20
4. Haji : 3 : 97, 2 : 196, 22 : 27
5. Puasa : 2 : 183, 2 : 185.

             💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Jadilah Pemburu Surga

Jadilah Pemburu Surga

💐Islam tidak akan dapat tegak, kecuali dengan perjuangan para penganutnya. Islam tidak akan tertanam, kecuali dengan siraman darah. Oleh karena itu, guru kita, Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa salam, gagah berani – dalam semua arti yang dikandung kata – ‘berani’. Para sahabat beliau juga orang-orang yang pemberani. Abu Bakar seorang siddiq, Umar terbunuh, Utsman juga tewas, Ali mandi darah. Delapan puluh persen sahabat beliau terbunuh.

Sehari sebelum perang Uhud, Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda diatas mimbar :

“Demi Allah yang menggenggam jiwaku, setiap orang yang terbunuh di jalan Allah pasti datang pada hari Kiamat seperti keadaannya ketika terbunuh didunia. Warnanya warna darah, tapi baunya bau minyak kesturi”.

Dalam hadist lainnya Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah berfirman kepada para syuhada pada hari Kiamat. Siapa yang membunuh kalian?” Mereka menjawab, “Musuh-musuh-Mu”. Dia berfirman lagi, “Mengapa kalian dibunuh?” Mereka menjawab,”Kami terbunuh karena perjuangan di jalan-Mu. ‘Dia berfirman, “Aku telah mengampuni kalian”.

Kita perlu menengok perang Uhud agar kita bisa melihat, bagaimana para leluhur kita dahulu, bagaimana keadaan kita sekarang, an apa yang kita berikan kepada Islam?
Mana para syuhada hari ini?
Mana para pahlawan Islam hari ini?
Mana peran kita dalam menyebarkan Islam hari ini?
Mana darah? Mana harta? Mana waktu? Mana pengorbanan?
Semuanya kosong.

Sehari sebelum pecah perang Uhud, Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bermusyawarah dengan para sahab at. Beliau mengumumkan hendak memerangi Abu Sufyan dan kaum musyrikin. Beliau bertanya kepada para sahabat, “Bagaimana pendapat kalian?Apakah kita memerangi mereka di lorong-lorong kota atau kita cegat mereka di gunung Uhud”.

Orang-orang tua menjawab, “Wahai Rasulullah, lebih baik kia tetap di tempat, bertahan di lorong-lorong dan rumah-rumah kita. Kalau mereka malsuk kota.klta perangi mereka”. Beliau pun setuju. Tetapi, baru selesai ucapan itu, para sahabat yang berusia muda, yan g berjumlah delapan puluh orang, keluar, lalu menghunus pedang dan memasang besi pelindung di kepala. Kemudian mereka melantunkan nasyid di luar masjjid dengan suara lantang.”Kami adalah orang-orang yang membaiat Muhammad untuk berjihad selamakami hidup”, tandas mereka.

Kemudian, seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh tahun berkata nyaring,”Wahai Rasulullah, pimpinlah kami ke Uhud. Jangan halangi kami masuk surga! Demi Allah, saya pasti masuk surga”. Mendengar gelora penuh semangat itu, Rasulullah bangkit. Setiap bulu di tubuh beliau berdiri. Setiap tetes darah beilaiu bergejolak. Beliau lalu berdiri. Beliau mengumumkan bahwa pintu-pintu surga telah dibuka dan Allah telah menempatkan diri kepada hamba-hamba-Nya . “Dengan apa kamu masuk surga?”, tanya beliau kepada para pemuda itu?

Para pemuda itu menjawab, “Dengan dua h al. Pertama, saya mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan saya tidak lari dari medan pertempuran”. Kemudian air mata Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam mengalir. Dengan mengangkat kedua tangan beliau bersabda, “Kalau kamu jujur kepada Allah, Dia pasti akan membalas kejujuranmu”.

Allah berfirman :

“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS : al-Ankanbut : 69)

Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, tak lama, berangkat menuju medan perang. Beberapa saat sebelum perang berkecamuk, beliau mencabut pedangnya dan bertanya, “Siapa yang ma memegang pedang ini?”. “Kami semua ingin memegangnya”, jawab para sahabat. Abu Dujanah bertanya, “Apa hak pedang ini, wahai Rasulullah?”, tanyanya. “Haknya adalah menebaskannya kepada kaum kafir hingga ia bengkok”, tegas Rasulullah.

Pernah anda mendengar ada pedang yang bengkok, karena digunakan membunuh musuh? Ya, ada .. dengan telapak tangan sahabat-sahabat Muhammad Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam. Kemudian Abu Dujanah mengambil pedang itu, sambi bersyair.

“Akulah yuang berjanlji kepada kekasihku,
Tatkala kami befrada di gunung diantara rumpun kurma ..
Untuk selamanya tidak berdiri di barisan belakang
Aku membunuh dengan pedang Allah dan Rasul ..”

Kemudian Abu Dujanah menggunakan pedang untuk berperang dan membunuh orang-orang kafir, hingga pedang itu bengkok. Lalu, dia mengembalikan pedang bengkok kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam. Para pahlawan lahir bermunculan.

intu-pintu surga dibuka. Para malaikat ikut meramaikan pertempuran. Pintu-pintu langit dibuka, menurunkan tentara yang dikomandani Jibril as. Dan turun diatas gunung Uhud.
Agama ini lenyap dari muka bumi atau kebenaran ini yang menang.

Tentu, kemenangan islam yang akan datang. Tak akan berhasil mereka yang menodai dan menggunakan agama hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat dengan melakukan kerjasama dengan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya. Wallahu’alam.

            💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Hukum dan Tata Cara Berkurban

Hukum dan Tata Cara Berkurban

🐐Ibadah kurban adalah satu syiar agama Islam yang telah disepakati oleh para ulama tentang pensyariatannya, walaupun mereka berbeda pendapat tentang hukumnya, wajib atau tidak.

Pengertian Udhhiyyah

Udhhiyyah atau Dhahiyyah adalah nama atau istilah yang diberikan kepada hewan sembelihan (unta, sapi atau kambing) pada hari ‘Idul Adha dan pada hari-hari tasyrîq  (11, 12, 13 Dzulhijjah) dalam rangka ibadah dan bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalil-Dalil Disyariatkannya

Udhhiyah (kurban) disyariatkan berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan ijma’ (kesepakatan ulama).

1. Dalil Al Qur’an

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (artinya),  “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2).

Berkata sebagian ahli tafsir, bahwa yang dimaksud dengan berkurban dalam ayat ini adalah menyembelih udhhiyah (hewan kurban) yang dilakukan sesudah shalat ‘Ied. (Lihat Tafsîr Ibni Katsîr 4: 505 dan Al Mughni 13:360).

2. Dalil As-Sunnah

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata,       “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba jantan yang keduanya berwarna putih dan sedikit bercampur warna hitam serta bertanduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir.” (HR. Bukhârî dan Muslim).

3. Dalil Ijma’

Seluruh kaum Muslimin telah bersepakat tentang disyariatkannya ibadah ini. (Lihat Al Mughnî 13: 360).

Fadhîlah (Keutamaannya)

Telah diriwayatkan oleh Imam Tirmîdzî dan Ibnu Mâjah dari ‘Aisyah—radhiyallâhu ‘anhâ—bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, bahwa menyembelih udhhiyyah adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah dari anak Adam (manusia) pada hari itu dan sangat cepat diterima oleh-Nya, sampai diibaratkan, sebelum darah hewan sembelihan menyentuh tanah.

Namun riwayat ini lemah karena pada sanadnya ada Abu Al Mutsannâ Sulaimân bin Yazid dan dia telah dilemahkan olah ulama-ulama hadits) (Lihat Takhrîj Misyâh Al Mashâbîn 1:462)

Walaupun demikian ulama telah bersepakat bahwa berkurban adalah ibadah yang paling utama (afdhal) dikerjakan pada hari itu dan dia lebih utama dari pada sekadar berinfak.

Imam Ibnu Qudamah—rahimahullâh—berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukan udhhiyah, demikian pula para khalifah sesudah beliau. Seandainya bersedekah biasa lebih afdhal tentu mereka telah melakukannya”. Dan beliau berkata lagi, “Mengutamakan sedekah atas udhhiyah akan mengakibatkan ditinggalkannya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Lihat Al Mughni 13:362).

Hukumnya

Hukum udhhiyyah adalah Sunnah Muakkadah (sangat ditekankan), bahkan sebagian ulama mewajibkan bagi yang mampu. Namun pendapat yang râjih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan sunnah muakkadah dan dimakruhkan meninggalkannya bagi orang yang sanggup mengerjakannya–-Wallâhu A’lam.

Imam Ibnu Hazm—rahimahullâh—berkata, “Tidak ada kabar yang shahih yang menunjukkan bahwa salah seorang dari sahabat memandang hukumnya wajib.”

Hukum sunnah ini bisa menjadi wajib oleh satu dari dua sebab berikut:

    Jika seseorang bernadzar untuk berkurban.
    Jika ia telah mengatakan ketika membeli (memiliki) hewan tersebut, “Ini adalah hewan udhhiyah (kurban),” atau dengan perkataan yang semakna dengannya.

Hikmah Disyariatkannya Udhhiyah

    Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Menghidupkan sunnah Ibrahim ‘alaihis salam dan semangat pengorbanannya.
    Berbagi suka kepada keluarga, kerabat, sahaya dan fakir miskin.
    Tanda kesyukuran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas karunia-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hari-hari (tasy–riq) adalah hari makan dan minum serta berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim).
Syarat Hewan yang Dijadikan Udhhiyah

Udhhiyah tidak sah kecuali pada unta, sapi dan kambing:

    Unta minimal 5 tahun
    Sapi minimal 2 tahun
    Kambing
        Domba minimal 6 bulan
        Kambing biasa minimal 1 tahun

Dan tidak mengapa menyembelih hewan yang telah dikebiri, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih dua ekor domba yang berwarna putih bercampur sedikit hitam yang sudah dikebiri. (HR. Ahmad).

Apalagi konon hewan yang telah dikebiri lebih baik dan lebih lezat.
Hewan yang Tidak Sah Dijadikan Udhhiyah

Merupakan syarat dari udhhiyah adalah bebas dari aib/cacat. Karenanya tidak boleh menyembelih hewan yang memiliki cacat, di antaranya:

    Yang sakit dan tampak sakitnya.
    Yang buta sebelah dan tampak pecaknya.
    Yang pincang dan tampak kepincangannya.
    Yang sangat kurus sehingga tidak bersumsum lagi.
    Yang hilang sebahagian besar tanduk atau telinganya.
    Dan yang termasuk tidak pantas untuk dijadikan udhhiyah adalah yang pecah atau tanggal gigi depannya, yang pecah selaput tanduknya, yang buta, yang mengitari padang rumput namun tidak merumput dan yang banyak kudisnya.

Waktu Penyembelihan

Penyembelihan dimulai seusai shalat ‘Iedul Adha hingga akhir hari-hari tasyriq, yaitu sebelum terbenam matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah. Dan sebagian ulama memandang waktu terakhir berkurban adalah terbenamnya matahari pada tanggal 12 Dzulhijjah—Wallâhu A’lam.

Dari Al Barâ’ bin Âzib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya yang pertama kali dilakukan pada hari (‘Iedul Adha) ini adalah shalat, kemudian kita pulang lalu menyembelih (udhhiyah). Barang siapa yang melakukan seperti ini maka telah sesuai dengan sunnah kami dan barang siapa yang menyembelih sebelum shalat maka sembelihan itu hanyalah daging untuk keluarganya dan tidak termasuk nusuk (ibadah).” (HR. Bukhârî dan Muslim).
Doa yang Dibaca Saat Menyembelih
بِسْمِ اللهِ وَ اللهُ  أَكْبَرُ

“Dengan nama Allah, Allah Yang Maha Besar.” Dan boleh ditambah:
أَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ أَللَّهُمَّ هَذَا عَنْ ……(يسمى المضحي)

“Ya Allah, sembelihan ini dari-Mu dan bagi-Mu. Ya Allah sembelihan ini atas nama ……(menyebutkan nama yang berkurban).” (HR. Abû Dâwûd, shahîh).
Urutan udhhiyah yang Afdhal

    Seekor unta dari satu orang
    Seekor sapi dari satu orang

    Seekor domba dari satu orang

    Seekor kambing biasa dari satu orang
    Gabungan 7 orang untuk seekor unta

    Gabungan 7 orang untuk seekor sapi

Semakin berkualitas dagingnya dan mahal harganya maka itu lebih afdhal.
Beberapa Hal yang Berkenaan dengan Udhhiyah

    Jika seseorang menyembelih udhhiyah maka amalan itu telah mencakup pula seluruh anggota keluarganya. (R. Tirmîdzî dan Mâlik dengan sanad yang hasan).
    Boleh bergabung tujuh orang pada satu udhhiyah yang berupa unta atau sapi. Disunnahkan untuk membagi udhhiyah menjadi tiga bagian: Sepertiga buat yang berkurban, sepertiga dihadiahkan dan sepertiga disedekahkan kepada fakir miskin.

    Dibolehkan memindahkan hewan kurban ke tempat atau negri lain pada saat yang dibutuhkan.

    Seorang yang berkurban tidak boleh menjual kulit dan daging sembelihannya.
    Tidak boleh memberikan kepada penjagal (tukang sembelih) upah dari sembelihan tersebut dan hendaknya upah dari selainnya. (R. Muslim dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu).

    Disunnahkan juga bagi yang mampu, menyembelih sendiri hewan kurbannya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Barangsiapa yang bermaksud untuk berkurban maka dilarang baginya memotong kuku dan rambutnya atau bulu yang melekat di badannya sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah (HR. Muslim).

Namun jika ia memotongnya, maka tidak ada kaffârah (tebusan) baginya namun hendaknya ia beristigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan hal ini tidak menghalanginya untuk berkurban.

    Hendaknya menyembelih dengan pisau, parang (atau sejenisnya) yang tajam agar tidak menyiksa hewan sembelihan

    Seorang wanita boleh menyembelih hewan kurban.

Barang siapa yang tidak sanggup untuk berkurban namun memiliki niat untuk itu maka ia akan mendapat pahala–-Insya Allah—karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkurban atas nama beliau dan atas nama kaum muslimin yang tidak mampu untuk berkurban. Wallohu Waliyyut Tawfîq

Abu Abdillah Muhammad Yusran Anshar

Sumber: Al Fikrah No. 10 Tahun VII/ 08 Dzulhijjah 1427H

             💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Iman, Islam & Ihsan

Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Iman, Islam & Ihsan

HADITS KEDUA

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ . رواه مسلم


Kosa kata /مفردات :
طلع : Terbit / datang العراة (العاري) : telanjang
أسند : Menyandarkan رعاء (راعي) : Penggembala
كفَّيه (كف) : Kedua telapak
tangan يتطاولون : saling meninggikan
فخذيه (فخذ) : Kedua pahanya انظلق : Berangkat / Bertolak
ركبتيه (ركبة) : Kedua lututnya أثر : Bekas
الحُفاة (الحافي) : telanjang kaki أمارات (أمارة) : tanda-tanda

Arti hadits / ترجمة الحديث :

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah SAW suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah SAW ) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah SAW: “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (Riwayat Muslim)

Catatan :
• Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan .
• Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit/Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah SAW)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
1. Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.
2. Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.
3. Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata: “Saya tidak tahu“, dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.
4. Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.
5. Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya.
6. Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan.
7. Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.
8. Didalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.

Tema-tema hadits / موضوعات الحديث :

1. Iman : 2 : 285, 5 : 5, 6 : 82 dll.
2. Islam : 2 : 112, 4 : 125, 72 : 14, 40 : 66, 3 : 19, 5 : 3
3. Ihsan : 18 : 30, 28 : 77, 17 : 7, 5 : 93
4. Hari akhir : 7 : 187, 22 : 7, 31 : 34 .
5. Ilmu ghaib hanya Allah yang mengetahui : 2 : 3, 27:65, 6 : 50, 7 : 188
6. Belajar & mengajarkan Islam : 16:43, 21:7, 3:79, 9:122

             💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Rahasia Sukses Ulama Zaman Terdahulu

Rahasia Sukses Ulama Zaman Terdahulu

👍Sebagian dari kita mungkin mengenal ulama' zaman dulu sekaliber Imam Syafi'i, salah satu tokoh pendiri Madzhab yang banyak pengikutnya. Imam An-Nawawi, ulama' yang meninggal dunia di usia muda dan rela tidak menikah hingga hayatnya demi ilmu, karya beliau melebihi umurnya. Imam Sibawaih, maestro ilmu nahwu dari kota Bashrah. Imam Al-Bukhari, beliau rela menempuh perjalanan ribuan kilometer hanya untuk mendapatkan satu hadits. Dan masih banyak lagi ulama' zaman dulu lainnya yang sangat besar perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan. Kesuksesan mereka tidak lepas dari kebiasaan dan cara belajarnya yakni dengan menghafal.

Namun, ironisnya cara belajar dengan menghafal ini mulai ditinggalkan. Banyak kalangan akademisi seperti dosen, mahasiswa, doktor bahkan profesor menilai bahwa metode belajar dengan menghafal ini dianggap kuno, tidak praktis, tidak efektif, membosankan dan melelahkan. Bukankah segala sesuatu itu butuh pengorbanan bila ingin mendapatkan hasil yang besar?. Bukankah orang yang tidak mau menanggung lelah dan sulitnya belajar, maka ia akan merasakan pahitnya kebodohan?. Maka dari itu, ilmu yang diperoleh oleh kalangan akademisi tersebut hanya berada pada komputer, laptop, smartphone, google, slide-slide powerpoint, buku dan diktat perkuliahan, tanpa semua itu mereka takkan bisa menyampaikan suatu ilmu. Ilmu mereka bagai uap yang hilang tak berbekas. Ilmu mereka hanya terdapat pada kertas-kertas, tidak menancap dalam hati dan pikirannya. Bukankah sebenarnya ilmu itu berada di hati, bukan di kertas?.

Masa kecil ulama' zaman dulu, mereka diajarkan adab dan akhlak terlebih dahulu dalam lingkungan keluarga. Bersamaan dengan itu mereka juga diajarkan belajar membaca Al-Qur'an yang benar kemudian menghafalkan sampai selesai 30 juz. Kebiasaan seperti ini sudah umum terjadi pada waktu itu. Mereka sejak kecil sudah hafal Al-Qur'an 30 juz. Ulama' zaman dulu tidak akan mempelajari ilmu-ilmu lain sebelum terlebih dahulu belajar membaca Al-Qur'an dan menghafalkannya. Mereka sadar bahwa Al-Qur'an adalah sumber ilmu pengetahuan yang jadi prioritas utama. Terbalik 180 derajat dengan apa yang terjadi di indonesia saat ini, titel mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi hanya segelintir yang bisa baca Al-Qur'an.

Setelah belajar adab dan akhlak serta selesai hafal Al-Qur'an 30 juz, barulah mereka masuk sekolah dan belajar berbagai ilmu terlebih dahulu mendalami ilmu agama seperti ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu hadits, dan lainnya.

Rahasia sukses belajar ulama' zaman dulu adalah mereka gemar menghafal. Menghafal semua ilmu meski belum paham. Mereka menghafal Al-Qur'an, hadits dan menghafal kitab-kitab matan (ringkasan) dari berbagai cabang ilmu. Seperti menghafal kitab matan Taqrib dari kitab Fathul Qarib untuk cabang ilmu Fiqh dan menghafal kitab matan Ajrumiyyah untuk cabang ilmu nahwu. Hafalan merupakan modal yang sangat berharga. Setelah menghafal mereka bisa memikirkan dan merenungkan hafalannya tanpa harus melihat buku atau kitab dan perlahan mulai memahami dengan pemahaman yang utuh dan benar mengenai suatu ilmu. Inilah buah dari menghafal.

Metode belajar Al-Hifzhu Qoblal Fahmi (menghafal sebelum memahami) ini dipopulerkan oleh Imam An-Nawawi dan sudah lama dipraktekkan oleh ulama'-ulama' sebelumnya. Selain gemar menghafal, para ulama' zaman dulu juga gemar meringkas sesuatu yang dipahaminya dari sebuah kitab ditulis dalam bentuk karya tulis. Tak lupa pula semua ilmu yang dipahaminya tadi dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tercapai semua prinsip belajar, yaitu membaca, menghafal, memahami, menulis dan mengaplikasikannya.

Kesimpulan rahasia sukses belajar ulama' zaman dulu  adalah pertama dengan menghafal terlebih dahulu, meskipun belum memahami (Al-Hifdzu Qoblal Fahmi), seiring waktu sambil memikirkan dan merenungi apa yang telah di hafal, sehingga muncul pemahaman yang utuh dan benar terkait suatu ilmu. Kemudian meringkas pemahaman tersebut dalam bentuk karya tulis yang sebelumnya telah diamalkan terlebih dahulu dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu A'lam.

             💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Isi Tas Sekolah Cewek Ini Bikin Seisi Sekolah Menangis -Apakah sebenarnya yang membuat siswi tersebut menolak untuk dilakukan pemeriksaan

Isi Tas Sekolah Cewek Ini Bikin Seisi Sekolah Menangis -Apakah sebenarnya yang membuat siswi tersebut menolak untuk dilakukan pemeriksaan

👜Apa sebenarnya yang ada dalam tas miliknya?

Kisah ini terjadi di kota Shan’a, ibukota Yaman. Dimana di tempat ini angka kemiskinan memang cukup tinggi dan cukup banyak warga miskin yang hidup di daerah ini.

Di sebuah sekolah khusus putri di kota ini ada sebuah aturan yang mengharuskan pemeriksaan tas secara dadakan bagi seluruh siswi yang ada di sekolahan itu. Razia ini sendiri dilakukan tidak tertentu waktunya supaya siswi tidak dapat mempersiapkan barang bawaannya sebelumnya, razia ini sendiri juga ditujukan untuk memastikan para siswanya tidak membawa barang barang terlarang yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar.

Razia ini berlangsung rutin dari tahun ke tahun dan tidak menemui kendala berarti, hingga suatu saat para guru menemukan sebuah temuan yang mengejutkan dalam sebuah tas milik seorang siswi

Gerakan mencurigakan seorang siswi
via: http://www.pulsk.com

Seorang siswi yang selama ini dikenal diam dan pemalu serta mempunyai akhlak yang santun tiba tiba terlihat cemas saat sebuah razia tas sedang dilakukan oleh para guru. Guru yang melihat dari kejauhan sudah mencurigai siswi yang dikenal pintar dan menonjol dalam akademis ini.

Tim guru yang melakukan razia semakin mendekat dan segera ingin melihat isi tas siswi ini karena ia tampak mengeluarkan ekspresi yang mencurigakan. Saat mereka semakin mendekat dan ada di depan siswi ini, siswi ini terus memegang erat tas yang ada didepannya, membuat tim pemerika semakin penasaran ada apa yang ia sembunyikan didalam tas miliknya.

“Buka tasmu wahai putriku..”

Siswi ini memandang dengan wajah sedih, ia tidak tetap tidak mau menyerahkan tas miliknya hingga menimbulkan sedikit perdebatan antara ia dan gurunya

“Tidak…tidak…tidak..”

Apakah sebenarnya yang membuat siswi tersebut menolak untuk dilakukan pemeriksaan pada tasnya?! Apa sebenarnya yang ada dalam tas miliknya dan takut dipergoki oleh tim pemeriksa?!

Guru yang semakin curiga dan penasaran terus memaksa siswi ini untuk menyerahkan tas miliknya, bahkan guru ini mencoba untuk merebut tas milik siswi ini namun tidak berhasil karena terus dipegang erat oleh siswi ini. Spontan saja siswi itu menangis sejadi-jadinya.

Seluruh kelaspun Kemudian Hening tanpa bersuara..

Beberapa guru mulai berpikiran jauh, “Ya Allah, apa sebenarnya yang terjadi dan apa gerangan yang ada di dalam tas siswi tersebut. Apakah mungkin siswi tersebut…??”
Untuk menjaga supaya kegiatan belajar mengajar tetap kondusif, guru guru ini membawa siswi ini ke ruang guru yang terpisah supaya kegiatan belajar mengajar tidak terganggu dengan kejadian ini. Air mata siswi ini mengalir deras, membuat semua guru bertanya tanya, apa sebenarnya yang ada di dalam tas siswi yang dikenal sangat penurut dan sopan ini.

“Apa yang engkau sembunyikan wahai putriku..?” tanya kepala sekolah untuk menenangkan siswi yang terlihat sangat ketakutan itu.

Guru menangis melihat isi tas ini
via: http://www.pulsk.com

    “Di dalam tas tersebut tidak ada benda-benda terlarang atau haram, atau telepon genggam atau foto-foto, demi Allah, itu semua tidak ada!”


Siswi ini tetap memegang erat tas ini, bibirnya bergetar karena menangis. Akhirnya ia mengatakan apa yang ada di dalam tasnya ini. Jawabannya membuat guru guru yang ada di tempat itu menangis.


    “Tidak ada dalam tas itu melainkan sisa-sisa roti.. Yah, itulah yang ada dalam tas tersebut.”


“Sisa-sisa roti ini adalah sisa-sisa dari para teman disekolah ini yang mereka buang di tanah, lalu aku kumpulkan untuk kemudian aku makan sebagian dan membawa sebagian lainnya untuk keluargaku dirumah. Ibu dan saudari-saudariku di rumah tidak memiliki apa apa untuk di santap di siang dan malam hari bila aku tidak membawakan untuk mereka sisa-sisa roti ini..”

    “Kami adalah keluarga fakir yang tidak memiliki apa-apa. Kami tidak punya kerabat dan tidak ada yang peduli pada kami..,”


“Itulan yang membuat aku menolak untuk membuka tas saat didalam kelas tadi, agar merasa sangat malu dan hina jika sampai teman temanku tau apa yang telah selama ini aku lakukan, mereka akan terus mencelaku di sekolah ini”


    “Hingga bisa bisa aku tidak mampu lagi menahan malu dan aku tidak mau meneruskan pendidikan disekolah ini, aku sungguh tidak mau seperti itu, karena aku yakin dengan Ilmu dari pendidikan disekolah ini kelak aku ingin merubah nasih keluargaku..”


    “Bapak Ibu Guruku yang aku hormati,,,Sungguh aku mohon maaf kalau perbuatanku tadi yang menentang kalian dan tidak sopan membuat kalian kecewa kepadaku..”


Siswi ini menjawab pertanyaan kepala sekolah dan guru guru ini dengan menahan air mata yang sedari tadi mendera wajahnya. Guru dan kepala sekolah yang ada di tempat itu tidak kuasa menangan air mata. Beberapa guru tampak menangis dan memeluk siswi itu erat erat.

Ini adalah satu kejadian yang bisa jadi ada juga disekitar kita tapi kita mengetahuinya dengan pasti, sebaiknya kita semakin memperhatikan orang disekitar kita untuk bisa lebih saling mengetahui dan berbagi satu sama lain terhadap mereka yang kekurangan.
Kita memohon kepada Allah agar selalu memberikan kekuatan kepada semua para penuntut ilmu yang mungkin saat ini dalam kondisi lemah ekonominya, hingga suatu saat nanti dengan penuh kesabaran & semangat dalam perjuangan akan diangkat Derajatnya oleh Allah, Amin!

             💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Niat & Ikhlas

Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Niat & Ikhlas

HADITS PERTAMA

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة


Kosa kata / مفردات :
الأعمال (العمل) : Perbuatan امرء : Seseorang
نوى : (Dia) niatkan امرأة : seorang wanita

Arti Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan( ) tergantung niatnya( ). Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya ( ) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Catatan :
1. Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.
2. Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :
1. Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
2. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
3. Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.
4. Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.
5. Semua pebuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.
6. Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.
7. Hadits diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.
Tema-tema hadits / موضوعات الحديث
1. Niat dan keikhlasan : 7 : 29, 98 : 5
2. Hijrah : 4 : 97, 2 : 218, 3 : 195, 8 : 72
3. Fitnah dunia : 3 : 145, 4 : 134, 6 : 70, 8 : 67.
Read More
Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Pengantar & Biografi Imam An Nawawi

Syarah Kitab Arba'in An Nawawi: Pengantar & Biografi Imam An Nawawi

           Hadits Arba’in Nawawiyah adalah kumpulan 40 hadits Nabi saw yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi ra. Dan merupakan kitab yang tidak asing bagi kita umat Islam, bukan hanya di Indonesia namun di seluruh dunia. Umat Islam mengenalnya dan akrab dengannya, karena banyak dibahas oleh para ulama dan menjadi rujukan dalam menyebarkan ajaran Islam kepada kaum muslimin berkaitan dengan kehidupan beragama, ibadah, muamalah dan syariah.

          Mungkin Imam Nawawi dalam mengumpulkan hadits-hadits ini ter inspirasi dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Ali, Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Abi Darda, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Khudhri –semoga Allah meridhai mereka semua- dari berbagai metode periwayatan- bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menghafal dari umatku 40 hadits –yang berisi di dalamnya- akan perkara agamanya, maka Allah akan membangkitkannya di hari kiamat nanti bersama golongan para fuqaha dan ulama”. Dalam riwayat lain disebutkan, “Allah akan membangkitkannya sebagai seorang faqih dan alim”. Dan dalam riwayat Abu Darda, “Aku pada hari kiamat akan menjadi pemberi syafaat dan saksi“. Dan dalam riwayat Ibnu Mas’ud, “Dikatakan kepadanya: Masuklah kamu pada pintu mana yang kamu suka”. Dan dalam riwayat Ibnu Umar, “Akan ditulis bersama golongan para ulama dan dibangkitkan bersama para syuhada”.

          Walaupun para huffazh al-hadits melemahkan kedudukan hadits di atas seperti imam Abdullah bin Al-Mubarak, Ad-Daruqutni, Al-Hakim, Abu Nu’aim dan para ulama lainnya dari ulama terdahulu dan sekarang, namun imam Nawawi tetap mengambilnya karena –seperti yang disepakati oleh ulama lainnya- boleh mengambil hadits dhaif (lemah) jika hanya berkaitan dengan fadlail a’mal (perbuatan yang diutamakan). Meskipun demikian Imam Nawawi tidak hanya bersandar pada hadits tersebut di atas namun berpedoman pada hadits lainnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadits shahih, “Agar dapat disampaikan orang yang menyaksikan kepada orang yang tidak menyaksikan”. Dan hadits Rasul lainnya, “Allah memberkahi seseorang yang mendengar sabdaku, lalu dia sadar dan menunaikannya seperti yang didengarnya”. Karena itulah imam Nawawi mencoba mengumpulkan 40 hadits, mengikuti dan meneladani apa yang disampaikan Rasulullah saw dan yang banyak dilakukan oleh para ulama terdahulu.

           Karena sebelumnya para ulama banyak mengumpulkan 40 hadits berkaitan dengan ushuluddin (dasar-dasar agama), sebagian lainnya mengumpulkan pada hadits yang berkaitan dengan cabang-cabang ilmu, sebagian lainnya pada masalah jihad, sebagian lainnya pada masalah adab (etika dan akhlaq) dan sebagian lainnya juga ada yang mengumpulkan pada hadits-hadits tentang khutbah Rasulullah saw, semuanya memiliki tujuan yang baik, karena itu Imam Nawawi juga ingin berkecimpung dalam mengumpulkan 40 hadits yang mencakup segala aspek kehidupan, berkaitan dengan kaidah agama yang agung, aqidah dan syariah, ibadah dan muamalah. Namun demikian, untuk melegalisasikan kebenaran hadits ini, imam Nawawi tidak mengambil hadits dari yang dhaif kecuali berusaha mengambil atau mengumpulkan 40 hadits dari hadits-hadits yang shahih, lebih banyak dari hadits-hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim.

           Imam Nawawi mengumpulkan 40 hadits dengan tidak menyebutkan secara lengkap sanad-sanadnya; guna mempermudah menghafal dan lebih luas manfaatnya. Dan bagi kita sebagai umat disarankan untuk mengambil, mempelajari dan menghafal hadits-hadits tersebut, karena memiliki komprehensivitas dalam kehidupan agama dan akhirat, ketaatan dan urusan duniawi.

Mengapa Harus Kitab Al-Arba’in Nawawiyah

Paling tidak ada beberapa alasan perlunya membahas kitab al-arba’in An-Nawawiyah:

1. Karena mencakup segala urusan dan kebutuhan umat Islam di dunia dan di akhirat baik dari aqidah, hukum, syariah, muamalah dan akhlaq.

2. Merupakan kumpulan hadits-hadits nabi pilihan, dan merupakan jawami’ul kalim yang memiliki keutamaan dalam pembahasan yang singkat dan padat.

3. Hadits-haditsnya merupakan satu kesatuan yang menjadi cakupan ajaran Islam, baik setengahnya, atau sepertiganya atau seperempatnya.

4. Banyak digunakan oleh para ulama untuk mengajarkan kepada umat Islam bahkan menjadi sandaran utama dalam memberikan pemahaman ajaran Islam sehingga sebagian ulama konsen dengan hadits-hadits ini lalu mensyarahnya dengan lebih rinci. Ada yang menyebutkan tidak kurang 51 kitab yang mensyarah hadits Al-Arba’in An-Nawiwayah.

Biografi Pengumpul Hadits Ar-Ba’in Imam Nawawi

1. Nama Lengkap, kelahiran, keturunan dan kegigihannya dalam menuntut ilmu.

Imam Nawawi dijuluki dengan Al-imam Al-hafizh al-auhad (satu-satunya) al-qudwah (tauladan) Syaikhul Islam (syaikh islam) ilmu awliya (pemimpin para wali) Muhyiddin ( pemberi kehidupan agama) Abu Zakariya (Bapaknya Zakaria) Yahya bin Syaraf bin Muri Al-Khuzami Al-Hawaribi As-Syafi’i. Beliau lahir pada bulan Muharram tahun 631 H

Pada tahun 649, atau pada umur 10 tahun beliau berkelana menuju kota Damaskus dan tinggal di sana untuk menuntut ilmu, menghafal kitab at-tanbiih dalam kurun waktu 4,5 bulan, menghafal kitab al-muhadzdzab dalam kurun setengah tahun di hadapan gurunya Al-Kamal bin Ahmad, kemudian menunaikan ibadah haji bersama orang tuanya dan tinggal di kota Madinah selama satu setengah bulan, dan menuntut ilmu di sana. Dikisahkan oleh Syeikh Abul Hasan bin Al-Atthar bahwa imam Nawawi setiap belajar 12 mata pelajaran dan menghafalnya di hadapan guru-gurunya dengan syarah yang begitu gamblang dan benar; dua pelajaran pada kitab al-wasith, satu pelajaran kitab al-muhadzab, satu pelajaran pada kitab al-jam’u baina as-shahihain, satu pelajaran pada kitab shahih Muslim, satu pelajaran pada kitab al-Luma’ karangan Ibnu Jana, satu pelajaran pada kitab ishlahul mantiq, satu pelajaran pada kitab tashrif, satu pelajaran pada kitab ushul fiqh, satu pelajaran pada kitab “Asmaur rijal”, satu pelajaran pada kitab ushuluddin.

Imam Nawawi berkata, “Saya berusaha melekatkan diri dalam menjelaskan sesuatu yang sulit dipahami, menjelaskan ungkapan yang samar dan menertibkan tata bahasa, dan Alhamdulillah Allah memberkahi waktu yang aku miliki, namun suatu ketika terbetik dalam hati ingin bergelut dalam ilmu kedokteran sehingga aku pun sibuk dengan ilmu perundang-undangan, sehingga aku merasa telah menzhalimi diri sendiri dan hari-hari selanjutnya aku tidak mampu melakukan tugas; akhirnya aku pun rindu pada ilmu yang sebelumnya telah aku pelajari, aku jual kitab perundang-undangan sehingga hatiku kembali bersinar.

2. Guru-guru imam Nawawi

Imam Nawawi berguru pada syaikh Ar-Ridha bin al-Burhan, Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad Al-Anshari, Zainuddin bin Abdul Daim, Imaduddin Abdul Karim Al-Khurasani, Zainuddin Khalaf bin Yusuf, Taqiyyuddin bin Abil Yasar, Jamaluddin bin As-Shayarfi, Syamsuddin bin Abi Umar dan ulama-ulama lainnya yang sederajat.

Beliau banyak belajar kitab-kitab hadits seperti kutub sittah, al-Musnad, al-Muwattha, Syarah Sunnah karangan Al-Baghwi, Sunan Ad-Daruquthni, dan kitab-kitab lainnya.

Sebagaimana beliau juga belajar kitab al-Kamal karangan al-Hafizh Abdul Ghani Alauddin , Syarah Hadits-hadits shahih bersama para muhaditsin seperti Ibnu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Muradi. Belajar kitab Ushul dengan ustadz Al-Qadhi At-tafalisi. Kitab Al-Kamal dengan ustadz ishaq al-Mu’arri, Syamsuddin Abdurrahman bin Nuh, Izzuddin Umar bin Sa’ad Al-Arbali dan Al-Kamal Salar Al-Arbali. Belajar kitab tentang bahasa bersama ustadz Ahmad Al-Masri dan ustadz lainnya. Lalu setelah itu beliau konsen dalam mengajarkan dan menyebarkan ilmu, beribadah, berdzikir, berpuasa, bersabar dengan kehidupan yang sederhana, baik makan maupun pakaian.

3. Murid-murid Imam Nawawi

Adapun murid-murid Imam Nawawi yang menjadi ulama terkenal setelah beliau adalah Al-Khatib Shadr Sulaiman Al-Ja’fari, Syihabuddin Ahmad bin Ja’wan, Syihabuddin Al-Arbadi, Alauddin bin Al-Atthar, Ibnu Abi Al-Fath dan Al-Mazi serta Ibnu Al-Atthar.

4. Ijtihad Imam Nawawi dan Aktivitas ubudiyahnya

Dikisahkan oleh syeikh Ibnu Al-Atthar: Bahwa Imam Nawawi bercerita kepadanya, beliau tidak pernah sedikit pun meninggalkan waktu terbuang sia-sia baik malam ataupun siang hari bahkan saat berada dijalan. Beliau melakukan mulazamah selama 6 tahun lalu menulis kitab, memberikan nasihat dan menyampaikan kebenaran.

Imam Nawawi memiliki semangat yang tinggi dalam beribadah dan beramal, teliti, wara’, hati-hati, jiwa yang bersih dari dosa dan noda, jauh dari kepentingan pribadi, banyak menghafal hadits, memahami seni dalam ilmu hadits, perawi hadits, shahih dan cacat hadits, serta menjadi pemuka dalam mengenal madzhab.

Syeikh Imam Rasyid bin Al-Mu’allim berkata, “Syeikh imam Nawawi adalah sosok yang tidak terlalu banyak masuk ke dalam kamar mandi, menyia-nyiakan waktu dalam makan dan berpakaian serta urusan-urusan lainnya, beliau sangat takut terkena penyakit sehingga menjadikan dirinya lengah dalam bekerja”. Beliau juga tidak mau makan buah-buahan dan mentimun, beliau berkata, “Saya khawatir membuat diri saya lemas dan menjadi suka tidur”.

5. Kitab-kitab karangan Imam Nawawi

Di antara kitab karangan Imam Nawawi adalah sebagai berikut: Syarah Shahih Muslim, Riyadlus shalihin, Al-Adzkar, Al-Arbain, Al-Irsyad Fi ulumil hadits, At-Taqrib, Al-Mubhamat, Tahrirul Al-Alfazh littanbih, Al-Idhah fil Manasik, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran, Al-Fatawa, Ar-Raudlatu Arbaati Asfar, Syarah Al-Muhadzab ila bab al-mirah (4 jilid) Syarah sebagian kitab Al-Bukhari, syarah kitab al-Wasith dan banyak lagi kitab lainnya dalam bidang hukum, bahasa, adab dan ilmu-ilmu fiqh.

6. Wara’nya Imam Nawawi

Imam Nawawi adalah seorang ulama yang wara’ dan zuhud, beliau sama sekali tidak menerima imbalan apapun dalam mengajar ilmu, beliau pernah menerima hadiah lampu templok dari seorang fakir. Imam Burhanuddin al-Iskandarani pernah mengajaknya buka puasa bersamanya, beliau berkata, “Bawalah makananmu kemari dan kita berbuka bersama di sini, lalu beliau makan hanya dua jenis makanan, selain itu ditinggalkan”.

Diceritakan oleh Imam Quthbuddin Al-Yunini bahwa Imam Nawawi adalah satu-satunya seorang ulama yang luas ilmunya, wara’, ahli ibadah, sederhana dan tidak bermewah-mewah dalam kehidupannya.

7. Sikap Imam Nawawi terhadap raja di masa hidupnya

Imam Nawawi selalu berhadapan dengan raja dan kezhaliman, mengingkari dan mengingatkan mereka dalam bentuk tulisan dan peringatan akan azab Allah. Di antara contoh surat beliau adalah sebagai berikut:

“Dari Abdullah bin Yahya An-Nawawi, Salamullah alaikum warahmatuhu wabarakatuh atas raja yang baik, raja para umara Badruddin, semoga Allah mengekalkan baginya kebaikan dan membimbingnya dengan kebenaran dan menyampaikannya menuju kebaikan dunia dan akhirat pada segala cita-cita dan urusannya, serta memberikan keberkahan dalam setiap perbuatannya. Amin.

Sebagaimana diketahui bahwa penduduk Syam sedang mengalami kesempitan dan kekeringan karena sudah lama tidak turun hujan… beliau menjelaskan secara detail dan panjang dalam surat tersebut kepada sang raja, namun sang raja menjawabnya dengan lebih keras dan menyakitkan, sehingga menambah runcing keadaan dan kekhawatiran para jamaah”.

Imam Syeikh Ibnu Farh mengisahkan perjalanan hidup beliau yang penuh dengan kenangan, beliau berkata, “Syeikh Muhyiddin An-Nawawi memiliki tiga tingkatan yang jika setiap orang mengetahui akan setiap tingkatannya maka akan segera pergi kepadanya, “Ilmu, zuhud dan al-amru bil ma’ruf dan an-nahyu anil mungkar”.

8. Wafatnya Imam Nawawi

Setelah melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis dan kembali ke kota Nawa, Imam Nawawi menderita sakit di samping orang tuanya, lalu meninggal pada tanggal 24 Rajab tahun 676 H. dan dikubur di kota Yazar. Rahimahullah al-imam An-Nawawi.
Read More
Etika Menjenguk Orang Sakit yang Banyak Dilupakan

Etika Menjenguk Orang Sakit yang Banyak Dilupakan

😰Menjenguk orang yang sakit merupakan amalan unggulan dalam Islam. Ianya termasuk bagian dari memenuhi hak sesama Muslim. Tatkala aktivitas ini sudah menjadi budaya dalam sebuah komunitas, niscaya terbentuk suasana persaudaraan yang hangat dan menenteramkan.

Sayangnya ada penurunan tingkat pemahaman di sebagian kalangan kaum Muslimin. Mereka tidak peduli terhadap saudaranya yang sakit hingga tidak bergegas memenuhi hak untuk menjenguknya. Ketika ada yang menjenguk pun, tiada nuansa sakral atau upaya menjalankan sunnah. Hanya sekadar ritual. Tiada pemaknaan yang mendalam.

Agar menjenguk orang yang sakit terasa sakral dan menghidupkan hati, ada kiat-kiat yang bisa ditempuh saat menjenguk. Ialah 4 hal yang dirangkum oleh Dr ‘Umar ‘Abdul Kafi dalam bukunya al-Wa’dul Haq.

Harapan

Datanglah dengan penampilan terbaik, tapi tiada kesan mewah. Tetap tersenyum. Berikan harapan-harapan terkait kesembuhan. Sampaikan nasihat-nasihat agar si sakit senantiasa mengeja sabar.

Sampaikan bahwa Allah Ta’ala menyediakan pahala yang agung jika si sakit sabar. Bahkan ada begitu banyak dosa yang digugurkan sebagai kompensasi atas sakit yang dirasakan. Sabar inilah kuncinya. Pahalanya tiada batas.

Doa

Jangan bergurau atau menghabiskan waktu dengan berbincang tanpa makna. Mula-mula, setelah ucap salam dan menyapa, segeralah bacakan doa untuk si sakit. Mohonkan kepada Allah Ta’ala agar si sakit segera disembuhkan.

Mintalah kepada Allah Ta’ala agar si sakit senantiasa diberi kesabaran menghadapi ujian yang memang tidak ringan ini.

Tangan Kanan

Ini hanya berlaku untuk si sakit yang sesama jenis atau masih termasuk mahram. Letakkan tangan kanan Anda di bagian tubuh pasien yang sakit, atau bagian lain yang dibolehkan. Tundukkan wajah. Bacakan ayat-ayat al-Qur’an. Minimal surat al-Fatihah.

Inilah yang dilakukan oleh sayyidina ‘Umar bin Khaththab saat membesuk sahabat yang sakit.

Hati Kerabat

Bukan hanya kepada si sakit, besarkan pula hati kerabatnya. Besarkan. Sabarkan. Hibur. Semangati. Ulurkan tangan untuk menolong dan telinga untuk mendengar. Jangan lupakan hati, agar ia bisa senantiasa berempati.

Sebab saat diuji dengan sakit, pihak kerabat merupakan penanggung pertama. Mereka juga harus dikuatkan. Bahkan tak jarang, ada kerabat yang gantian sakit setelah sibuk mengurusi kerabatnya yang sakit.

Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan dalam iman dan Islam. Aamiin.

Wallahu a’lam [Kisahikmah.com]

*Buku al-Wa’dul Haq

             💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Perbandingan Antara Kehidupan Dunia dan Akhirat

Perbandingan Antara Kehidupan Dunia dan Akhirat

🌍Dunia dan akhirat sungguh adalah suatuhal yang sangat jauh berbeda. Kehidupan dunia adalah kehidupan sementara sebagai ladang untuk mengumpulkan bekal berupa amal kebajikan untuk menujukepada akhirat. Sedangkan akhirat adalah tempat di mana kita akan menjalani hidup setelah mati dan tidak ada kematian lagi setelah itu. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya dan kehidupan dunia hanyalah sandiwara belaka.

Tidak ada yang teristimewa dunia bila dibandingkan dengan akhirat. Yang mana dunia adalah tempat yang sementara dan akhirat tempat yang kekal. Berbagai kenikmatan dunia tidak sebanding dengan kenikamatan akhirat, karena kenikmatan akhirat sungguh luar biasa. Begitu juga dengan siksaan-siksaan dikahirat nanti, sungguh tidak ada bandingan dengan kesengsaraaan di dunia ini.

Pernah rasulullah menceritakan suatu kejadian dihari kiamat, Dari Anas r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Akan didatangkanlah orang yang terenak kehidupannya di dunia dan ia termasuk golongan ahli neraka pada hari kiamat nanti, lalu diceburkan dalam neraka sekali ceburan (sesaat saja), lalu dikatakan: "Hai anak Adam (yakni manusia), adakah engkau dapat merasakan sesuatu kebaikan (keenakan dimasa sebelumnya) sekalipun sedikit? Adakah suatu kenikmatan yang pernah menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia berkata: "Tidak, demi Allah, ya Tuhanku"- yakni setelah merasakan pedihnya siksa neraka walau sesaat, maka kenikmatan-kenikmatan dan keenakan-keenakan di dunia itu seolah-olah lenyap sama sekali. Juga akan didatangkanlah orang yang paling menderita kesengsaraan di dunia dan ia termasuk ahli syurga, lalu ia dimasukkan sekali masuk dalam syurga (sesaat saja), lalu dikatakan padanya: "Hai anak Adam, adakah engkau dapat merasakan sesuatu kesengsaraan, sekalipun sedikit? Adakah suatu kesukaran yang pernah menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah, tidak pernah ada kesukaranpun yang menghampiri diriku dan tidak pernah saya melihat suatu kesengsaraan pun sama sekali," (yakni) setelah merasakan kenikmatan syurga, maka kesengsaraan dan kesukaran yang pernah diderita di dunia itu seolah-olah lenyap sekaligus. (Riwayat Muslim).

Nah, sebenarnya apa sih yang membanggakan dari dunia sedangkan Allah menawarkan hal yang luar biasa diakhirat. Apakah mungkin karena rendanya pengetahuan tentang agama? Tidak, banyak orang yang menetahui agama tapi juga tidak mneghiraukannya. Alasan utamanya adalah mereka disibukkan oleh mengejar kepada kekayaan-kekayaan dunia yang diiringin oleh hasutan-hasutan pengkhianat Allah yaitu iblis. Mereka dilalaikan oleh kekayaan tersebut sehingga terus berlomba untuk mencapai nafsu duniawi. Seperti firman Allah berikut ini,
أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ -  حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ- كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُو - نَثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ - كَلَّا لَوْ
تَعْلَمُونَ عِلْمَ ٱلْيَقِينِ - لَتَرَوُنَّ ٱلْجَحِيمَ - ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ ٱلْيَقِينِ - ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (Surah At-takatsur : 1-8).

Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan. Jika ketaatan sudah mulai pudar, dikhawatirkan agama akan goyah. Oleh sebab itu, rasulullah pernah bersabda dalam haditsnya,

Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. duduk di atas mimbar dan kita duduk di sekitarnya, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya salah satu yang saya takutkan atasmu semua sepeninggalku nanti ialah apa yang akan dibukakan untukmu semua itu dari keindahan harta dunia serta hiasan-hiasannya (yakni) bahwa meluapnya kekayaan pada umat Muhammad inilah yang amat ditakutkan, sebab dapat merusakkan agama jikalau tidak waspada mengendalikannya." (Muttafaq'alaih)

Para pembaca yang budiman,
Sungguh kehidupan ini jikalau tidak dikendalikan sesuai dengan akhidah dan tuntunan agama, maka sasaran dari skenario kehidupan kita akan sia-sia. Kita dituntut untuk memerankan hal terbaik dan berlomba-lomba dalam beramal namun malah kebalikan, kenyataan manusia sekarang sudah terperdaya oleh meluapnya harta, seakan-akan mereka bisa memeproleh segalanya dengan harta yang mereka miliki. Padahal tidak sesuatu apapun yang kita bawa dari dunia kecuali amal ibadah yang shalih sebagai hasil dari tiap akting dan peran kita didunia dan dari setiap hal yang pernah dititpkan. Tidak ada satu pun yang kita bawa ke alam berdhah (alam kubur) kecuali amalan shalih. Seperti yang dijelaskan rasulullah SAW.,

"Ada tiga macam mengikuti mayat itu- ketika di bawa ke kubur, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan satu tetap tinggal menyertainya. Keluarga dan hartanya kembali sedang amalnya tetap mengikutinya." (Muttafaq 'alaih)

Dan dunia ini bukanlah apap-apa bila dibanding kena dengan kehipan akhirat. Apa yang terdapat di dunia adalah bagian yang paling kecil yang ada di akhirat kelak, baik itu kenikmatan mahupun siksaan. Jika suatu kenikmatan yang kita rasakan teramat nikmat maka kenikmatan itu akan berlipat ganda diakhirat kelak. Seperti sabda berikut ini,

Dunia dan akhirat sungguh adalah suatuhal yang sangat jauh berbeda. Kehidupan dunia adalah kehidupan sementara sebagai ladang untuk mengumpulkan bekal berupa amal kebajikan untuk menujukepada akhirat. Sedangkan akhirat adalah tempat di mana kita akan menjalani hidup setelah mati dan tidak ada kematian lagi setelah itu. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya dan kehidupan dunia hanyalah sandiwara belaka.
Dari al-Mustaurid bin Syaddad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidaklah (berarti) dunia ini kalau dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti sesuatu yang seorang diantara engkau semua menjadikan jarinya masuk dalam air lautan, maka cobalah lihat dengan apa ia kembali (yakni) seberapa banyak air yang melekat di jarinya itu, jadi dunia itu sangat kecil nilainya dan hanya seperti air yang melekat di jari tadi banyaknya-." (Riwayat Muslim)

Seberapa luaskan lautan itu, dan seberapa besarkah ujung jari kita? Tidak ada banding, sungguh tidak ada banding. Bahkan dengan telapak tangan juga tidak tertandingi apalagi dengan lautan.

Dan juga sesungguhnya Dunia ini bahkan lebih hina dari sebuah bangkai. Siapapun didunia ini tidak akan tergerak hatinya untuk membeli bangkai walau hanya satun sen. Itu adalah sebab dari kehinaan dari bangkai tersebut. Bagaimana dengan dunia, mengapa orang terlalu berlomba-lomba kepada dunia? Itu adalah sebab rendahnya keimanan sehingga dengan mudah terperdaya oleh kenikmatan-kenikmatan yang menyesatkan.

Dari Jabir r.a. pernah menceritakan bahwasanya suatu ketika Rasulullah s.a.w. berjalan melalui pasar, sedang orang-orang ada di sebelahnya kiri kanan. Kemudian melalui seekor anak kambing kecil telinganya dan telah mati. Beliau s.a.w. menyentuhnya lalu mengambil telinganya, terus bertanya: "Siapakah diantara engkau semua yang suka membeli ini dengan uang sedirham?" Orang-orang menjawab: "Kita semua tidak suka menukarnya dengan sesuatu apapun dan akan kita gunakan untuk apa itu?" Beliau bertanya lagi: "Sukakah engkau semua kalau ini diberikan (gratis) saja padamu." Orang-orang menjawab: "Demi Allah, andaikata kambing itu hidup, tentunya juga cacat karena ia kecil telinganya. Jadi apa harganya lagi setelah kambing itu mati?" Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada kambing ini bagimu semua." (Riwayat Muslim)

Kehinaan dunia sesungguhnya tidak tampak oleh kaca mata kita kaum awam. Kita tidak pernah menyadari bahwa dunia ini lebih hina dari bangkai. Seakan dunia menawarakan sejuta pesona keabadian, yang sebenarnya itu adalah rongrongan setan dan iblis untuk menyesatka umat manusia.

Maka oleh sebab itu, jadilah hamba yang memiliki peran yang baik didunia ini dan mendapat predikat terbaik di sisi Allah SWT. karena sesunggnya setiap amalan akan dipertanyakan oleh Allah SWT. tidak akan ada satupun yang tertinggal karena semunya telah dicatat oleh malaikat-malaikat Allah. Pertanyaan pertanyaan itu akan ditanyakan kepada siapapun, baik laki-laki mauhupun perempuan, baik yang kaya mahupun yang miskin. Karena siapapun anak Adam akan dipertanyakan pada hari kiamat nanti. Pertanyaan apakah itu? Rasulullah bersabda,

Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan. (HR. Ahmad)

Semua itu menyangkut dengan dunia, dunia, dan dunia, semuanya tentang kehidupan dunia. Kehidupan dunia hanya akan memberatkan apabila amalan shalih kita kurang dan senantiasa selalu terperdaya oleh harta. Maka oleh sebab itu, mulailah suatu yang baik dari sekarang. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Dan semoga Allah selalu memberikan petunjuk nya kepada kita. Aamiin aamiin yarabbal ‘alamiin.

             💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Kebesaran Jiwa Buya Hamka

Kebesaran Jiwa Buya Hamka

💥🍃BELAJAR MEMAAFKAN DARI BUYA HAMKA.                                  
Salin dari FB;
Janganlah pandang hina musuhmu,
karena jika ia menghinamu,
itu ujian tersendiri bagimu..”(Syair Imam Syafi’i)

HAJI Abdul Malik Karim Amrullah atau bisa dikenal dengan Buya Hamka adalah ulama besar yang meninggalkan jejak kebaikan bagi umat dan bangsa ini. Semasa hidup, ulama kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, ini dikenal sebagai sosok ulama yang santun dalam bermuamalah, namun tegas dalam akidah. “Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak manapun,”demikian tegasnya ketika dilantik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hamka salah seorang ulama yang mendapat gelar Doktor Honouris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, karena kiprah dakwahnya dalam membina umat. Ia dikenal dengan fatwanya ketika menjabat sebagai Ketua MUI, yang mengeluarkan fatwa haram bagi umat untuk Islam mengikuti “Perayaan Natal Bersama”. Ia juga yang menolak undangan untuk bertemu Paus, pemimpin Katholik dunia, ketika datang berkunjung ke Istana Negara pada masa Presiden Soeharto. Dengan tegas, Buya Hamka mengatakan perihal penolakannya bertemu Paus tersebut, “Bagaimana saya bisa bersilaturrahmi dengan beliau, sedangkan umat Islam dengan berbagai cara, bujukan dan rayuan, uang, beras, dimurtadkan oleh perintahnya?”

Demikian ketegasan Buya Hamka dalam soal akidah. Namun dalam bermuamalah, ia santun dan lembut, sikapnya mencerminkan pribadinya. Ia sosok pemaaf, tak pernah menaruh dendam…

Baru-baru ini, anak kelima dari Buya Hamka, Irfan Hamka, merilis ulang sebuah buku yang menggambarkan tentang sosok dan pribadi ulama tersebut. Buku berjudul “Ayah” itu menceritakan pengalaman hidup Irfan Hamka bersama sang ayah, dan suka duka perjalanan hidup ayah tercintanya, baik sebagai tokoh agama, politisi, sastrawan, dan kepala rumah tangga. Sebelumnya, putra kedua Buya Hamka, Rusjdi Hamka, juga pernah menulis buku yang mengisahkan tentang sosok sang ayah, yang berjudul “Pribadi dan Martabat Buya Hamka.”

Ada hal menarik yang diceritakan dalam buku “Ayah” tersebut. Terutama tentang bagaimana sosok pribadi Buya Hamka ketika menghadapi orang-orang yang pernah memfitnah, membenci, dan memusuhinya. Sebagai ulama yang teguh pendirian, tentu ada pihak yang tak suka dengan sikapnya. Irfan Hamka menceritakan bagaimana sikap Buya Hamka terhadap tiga orang tokoh yang dulu pernah berseberangan secara ideologi, memusuhi, membenci, bahkan memfitnahnya. Ketiga tokoh tersebut adalah Soekarno (Presiden Pertama RI), Mohammad Yamin (tokoh perumus lambang dan dasar negara), dan Pramoedya Ananta Toer (Budayawan Lekra/Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi seni dan budaya yang berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia).

Betapapun ketiga tokoh itu membenci dan memusuhi Buya Hamka, namun akhir dari kesudahan hidupnya mereka justru begitu menghormati dan menghargai pribadi dan martabat Buya Hamka.

Soekarno ketika menjabat sebagai Presiden RI dan memaksakan ideologi Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), menahan Buya Hamka selama dua tahun empat bulan dengan tuduhan yang tidak main-main: terlibat dalam rencana pembunuhan Presiden Soekarno. Pada 28 Agustus 1964, Buya Hamka ditangkap dan dijerat dengan tuduhan melanggar Undang-Undang Anti Subversif Pempres No.11. Hamka ditahan tanpa proses persidangan dan tanpa diberikan hak sedikitpun untuk melakukan pembelaaan. Tak hanya itu, buku-buku karyanya pun bahkan dilarang untuk diedarkan. Hamka dijebloskan ke penjara, diperlakukan bak penjahat yang mengancam negara. Begitu zalimnya sikap Soekarno terhadap ulama tersebut.

Namun apa yang terjadi, setelah bebas dari penjara, dan Buya Hamka sudah mulai beraktivitas kembali, sementara kekuasaan Soekarno sudah terjungkal, peristiwa mengharukan terjadi. Soekarno yang mulai hidup terasing dan sakit-sakitan, di akhir hayatnya kemudian menitipkan pesan kepada orang yang dulu pernah dizaliminya. Pesan tersebut disampaikan kepada Buya Hamka lewat ajudan Presiden Soeharto, Mayjen Soeryo, pada 16 Juni 1970. Isi pesan tersebut berbunyi, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku..”

Hamka terkejut, pesan tersebut ternyata datang seiring dengan kabar kematian Soekarno. Tanpa pikir panjang, ia kemudian melayat ke Wisma Yaso, tempat jenazah Bung Karno disemayamkan. Sesuai wasiat Soekarno, Buya Hamka pun memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu. Dengan ikhlas ia menunaikan wasiat itu, mereka yang hadir pun terharu. Lalu, apakah Buya Hamka tidak menaruh dendam pada Soekarno. Dengan ketulusan ia mengatakan, “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu…”

Peristiwa mengharukan tentang kebesaran jiwa Buya Hamka dalam memaafkan orang-orang yang pernah membencinya adalah terkait dengan kematian Mohammad Yamin, salah seorang founding father negeri ini, tokoh kebangsaan yang juga termasuk perumus dasar dan lambang negara. Meski berasal dari Sumatera Barat, namun Yamin adalah produk pendidikan sekular. Ia aktif di Jong Sumatranen Bond (Ikatan Pemuda Sumatra) yang bercorak kesukuaan dan sekular. Ia juga menjadi anggota Gerakan Theosofi, sebuah organisasi kebatinan yang juga mengedepankan sekularisme dan paham kebangsaan.

Mohammad Yamin begitu membenci Buya Hamka karena perbedaan ideologi. Ia aktif di Partai Nasionalis Indonesia (PNI), sedangkan Buya Hamka aktif di Partai Masyumi. PNI menginginkan Pancasila sebagai dasar negara, sementara Partai Masyumi berpegang teguh pada sikap ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Kebencian Yamin tersulut, ketika dalam Sidang Majelis Konstituante, dengan lantang Buya Hamka berpidato dan mengatakan, “Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!”

Pidato Buya Hamka yang tegas tersebut kemudian menyulut kebencian Mohammad Yamin. Ia menyuarakan kebenciannya kepada Hamka dalam berbagai kesempatan, baik ketika dalam ruang Sidang Konstituante, ataupun dalam berbagai acara dan seminar. “Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian kepada saya, hati nuraninya pun ikut membeci saya,” begitu kata Buya Hamka.

Tahun 1962, Mohammad Yamin jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Buya Hamka memantau perkembangannya lewat radio dan media massa cetak. Hingga tiba pada suatu hari, Chaerul Saleh, menteri di kabinet Soeharto menelponnya dan ingin menyampaikan kabar mengenai kesehatan Mohammad Yamin. Chaerul Saleh kemudian menagatakan kepada Hamka, “Buya, saya membawa pesan dari Pak Yamin. Beliau sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja menemui Buya untuk menyampaikan pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir beliau,” ujarnya.

Hamka yang tertegun kemudian bertanya, “Apa pesannya?” Sang menteri itu kemudian mengatakan,”Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya. Saat ini, pak Yamin dalam keadaan sekarat,”terangnya. Selain itu, kata sang menteri, “Beliau mengharapkan sekali, Buya bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya.” Kepada Buya Hamka, Menteri Chaerul Saleh itu juga mengatakan, Yamin khawatir, masyarakat Talawi, Sumatera Barat, tempatnya berasal, tidak berkenan menerima jenazahnya.

Mendengar penuturan Chaerul Saleh, saat itu juga Buya Hamka kemudian minta diantar ke RSPAD, tempat Yamin terbaring sakit. Melihat kedatangan Hamka, Yamin yang tergolek lemah kemudian melamabaikan tangan. Hamka mendekatinya, kemudian menjabat hangat tangannya. Yamin memegang erat tokoh yang dulu pernah dimusuhinya itu. Sementara Hamka terus membisikan ke telinga Yamin surat Al-Fatihah dan kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallah.” Dengan suara lirih, Yamin mengikuti. Namun tak berapa lama, tangannya terasa dingin, kemudian terlepas dari genggaman Buya Hamka.

Mohammad Yamin menghembuskan nafas terakhirnya disamping sosok yang dulu menjadi seterunya. Di akhir hayat, tangan keduanya berpegangan erat, seolah ingin menghapuskan segala sengketa yang pernah ada. Orang yang hadir ketika itu mungkin terlibat dalam keharuan yang sangat. Memenuhi wasiat Yamin, Hamka pun kemudian turut mengantar jenazah salah seorang tokoh nasional itu sampai ke pembaringan terakhirnya.

Cerita terakhir adalah tentang Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer. Keduanya berseberangan secara ideologi. Pram, sapaan akrab sastrawan itu, menyuarakan aspirasi kaum kiri dan aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan PKI. Lewat rubrik Lentera di Surat Kabar Bintang Timoer, Pram dan kawan-kawannya tak henti-hentinya menyerang Hamka. Karya-karya novel Hamka dituding sebagai plagiat, pribadinya diserang sedemikian rupa. Fitnah dan penghinaan itu tak lain adalah karena Buya Hamka adalah seorang sastrawan yang anti Komunis, tokoh Muhammadiyah dan Masyumi.

Namun takdir perseteruan itu menemukan jalan ceritanya yang sungguh mengharukan. Suatu ketika, Astuti, putri Pramoedya mengutarakan keinginannya untuk menikah. Ia sudah menentukan calon pendamping bernama Daniel Setiawan. Pram tentu bersenang hati atas keinginan anaknya tersebut. Namun ada satu ganjalan di hatinya, sang calon menantu yang berasal dari peranakan etnis Tionghoa, ternyata berlainan keyakinan dengan putrinya. “Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda,” demikian ujar Pram, sebagaimana disampaikannya kepada Dr. Hoedaifah Koeddah, dokter yang mengobatinya dan dekat dengan keluarganya.

Singkat cerita, Pram kemudian meminta putri dan calon menantunya itu untuk datang menemui Buya Hamka, sosok ulama yang menjadi seterunya. Ia meminta calon menantunya itu untuk belajar Islam kepada Hamka. “Saya lebih mantap   calon menantuku untuk diislamkan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik,” demikian Pram menjelaskan.

Bersama Astuti, sang calon menantu Pram itu kemudian mendatangi kediaman Buya Hamka. Ia menceritakan maksud kedatangan, agar Buya bersedia mengajarkan kekasihnya itu ajaran-ajaran Islam. Setelah itu, ia memperkenalkan diri sebagai anak dari Pramoedya Ananta Toer. Buya Hamka tertegun sejenak, raut wajahnya seperti ingin meneteskan air mata. Ia kemudian dengan ikhlas membimbing sejoli itu untuk belajar Islam. Tak lupa pula, ia menitipkan salam untuk ayah sang putri itu. Suasana begitu haru.

Astuti, putri Pramoedya itu tak menyangka, sosok yang dulu begitu dibenci oleh ayahnya, ternyata adalah lelaki yang bersahaja dan berlapang dada. Ia sungguh terharu, dan berterimakasih bisa diterima untuk menimba ilmu agama. Mereka kemudian larut dalam kehangatan dan melupakan segala dendam.

Begitulah sosok Buya Hamka. Ulama yang tegas dan bersahaja. Lelaki yang tak pernah memelihara dendam dalam hatinya, meski musuh yang begitu membencinya sudah tak berdaya. Ia berjiwa besar, berlapang dada, dan menganggap segala kebencian bisa sirna dengan saling memaafkan dan menebarkan cinta. Keteladanannya kini, tetap bersinar seperti mutiara…

Sumber: Buku "Ayah" tulisan Irfan Hamka

             💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Gema Takbir Terakhir Sang Muadzin Rasulullah

Gema Takbir Terakhir Sang Muadzin Rasulullah

📢Bilal bin Rabbah adalah salah satu sosok Muslim yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dialah sosok muadzin pertama. Beliau telah lebih dahulu mendengar seruan Rasulullah SAW yang membawa agama Islam, yang menyeru untuk beribadah kepada Allah yang Esa. Meninggalkan berhala, menggalakkan persamaan antara sesama manusia, memerintahkan kepada akhlak yang mulia. Sebagaimana beliau juga selalu mengikuti pembicaraan para pemuka Quraisy seputar Nabi Muhammad SAW.

Setelah Nabi SAW dan kaum muslimin hijrah ke Madinah dan menetap disana, Rasulullah SAW memilih Bilal untuk menjadi muadzin pertama. Bilal tidak hanya ditugaskan pada seputar adzan saja, tapi juga selalu menyertai Rasulullah SAW dalam setiap peperangan.

Sejak Rasulullah wafat, Bilal meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak lagi melantukan Adzan di puncak Masjid Nabawi di Madinah. Bahkan permintaan Khalifah Abu Bakar, yang kembali memintanya untuk menjadi muadzin ia penuhi.

Dengan kesedihan yang mendalam Bilal berkata,
“Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”

Khalifah Abu Bakar pun bisa  memahami kesedihan Bilal dan tak lagi memintanya untuk kembali menjadi muadzin di Masjid Nabawi, melantunkan Adzan panggilan umat muslim untuk menunaikan shalat fardhu.

Kesedihan Bilal akibat wafatnya Rasulullah tidak bisa hilang dari dalam hatinya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Madinah, bergabung dengan pasukan Fath Islamy hijrah ke negeri Syam. Bilal kemudian tinggal di Kota Homs, Syria.

Sekian lamanya Bilal tak berkunjung ke Madinah, hingga pada suatu malam, Rasulullah Muhammad SAW hadir dalam mimpinya. Dengan suara lembutnya Rasulullah menegur Bilal,

“Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?“

Bilal pun segera terbangun dari tidurnya. Tanpa berpikir panjang, Ia mulai mempersiapkan perjalanan untuk kembali ke Madinah. Bilal berniat untuk ziarah ke makam Rasulullah setelah sekian tahun lamanya Ia meninggalkan Madinah.

Setibanya di Madinah, Bilal segera menuju makam Rasulullah. Tangis kerinduannya membuncah, cintanya kepada Rasulullah  begitu besar. Cinta yang tulus karena Allah kepada Baginda Nabi yang begitu dalam.

Pada saat yang bersamaan, tampak dua pemuda mendekati Bilal. Kedua pemuda tersebut adalah Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Masih dengan berurai air mata, Bilal tua memeluk kedua cucu kesayangan Rasulullah tersebut.

Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah, juga turut haru melihat pemandangan tersebut. Kemudian salah satu cucu Rasulullah itupun membuat sebuah permintaan kepada Bilal.

“Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”

Umar bin Khattab juga ikut memohon kepada Bilal untuk kembali mengumandangkan Adzan di Masjid Nabawi, walaupun hanya satu kali saja. Bilal akhirnya mengabulkan permintaan cucu Rasulullah dan Khalifah Umar Bin Khattab.

Saat tiba waktu shalat, Bilal naik ke puncak Masjid Nabawi, tempat Ia biasa kumandangkan Adzan seperti pada masa Rasulullah masih hidup. Bilal pun mulai mengumandangkan Adzan.

Saat lafadz “Allahu Akbar” Ia kumandangkan, seketika itu juga seluruh Madinah terasa senyap. Segala aktifitas dan perdagangan terhenti. Semua orang sontak terkejut, suara lantunan Adzan yang dirindukan bertahun-tahun tersebut kembali terdengar dengan merdunya.

Kemudian saat Bilal melafadzkan “Asyhadu an laa ilaha illallah“, penduduk Kota Madinah berhamburan dari tempat mereka tinggal, berlarian menuju Masjid Nabawi. Bahkan dikisahkan para gadis dalam pingitan pun ikut berlarian keluar rumah mendekati asal suara Adzan yang dirindukan tersebut.
Puncaknya saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah“, seisi Kota Madinah pecah oleh tangis dan ratapan pilu, teringat kepada masa indah saat Rasulullah masih hidup dan menjadi imam shalat berjamaah.

Tangisan Khalifah Umar bin Khattab terdengar  paling keras. Bahkan Bilal yang mengumandangkan Adzan tersebut tersedu-sedu dalam tangis, lidahnya tercekat, air matanya tak henti-hentinya mengalir. Bilal pun tidak sanggup meneruskan Adzannya, Ia terus terisak tak mampu lagi berteriak melanjutkan panggilan mulia tersebut.

Hari itu Madinah mengenang kembali masa saat Rasulullah masih ada diantara mereka. Hari itu, Bilal melantukan adzan pertama dan terakhirnya semenjak kepergian Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampungkannya.

            💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Keadaan Ruh Setelah Manusia Meninggal

Keadaan Ruh Setelah Manusia Meninggal

💎APAKAH Anda telah mengetahui bagaimana ruh kita jika telah meninggal nanti? Apa saja yang akan dilakukan ruh? Apakah dia akan bagaikan orang yang hidup di dunia? Wallahu Alam. Namun, agar kita mengetahuinya, Rasulullah SAW telah banyak menerangkan dan memberitahu pada kita yang berkaitan dengan ruh. Berikut ini penjelasannya berdasarkan hadits-hadits Rasulullah.

a. “Allah menjadikan ruh mereka dalam bentuk seperti burung berwarna kehijauan. Mereka mendatangi sungai-sungai Surga, makan dari buah-buahannya, dan tinggal di dalam kindil (lampu) dari emas di bawah naungan ‘Arasyi’,” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).

b. “Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu,” (HR. Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid).

c. Orang yang telah meninggal saling kunjung-mengunjungi antara yang satu dengan yang lainnya. Nabi SAW bersabda:

“Ummu Hani bertanya kepada Rasulullah SAW: ‘Apakah kita akan saling mengunjungi jika kita telah mati, dan saling melihat satu dengan yang lainnya wahai Rasulullah SAW?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ruh akan menjadi seperti burung yang terbang, bergelantungan di sebuah pohon, sampai jika datang hari kiamat, setiap roh akan masuk ke dalam jasadnya masing-masing’,” (HR. Ahmad dan Thabrani dengan sanad baik).

d. Orang yang telah meninggal merasa senang kepada orang yang menziarahinya, dan merasa sedih kepada orang yang tidak menziarahinya. Nabi SAW bersabda:

“Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendo’akannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu,” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubur).

e. Orang yang telah meninggal mengetahui keadaan dan perbuatan orang yang masih hidup, bahkan mereka merasakan sedih atas perbuatan dosa orang yang masih hidup dari kalangan keluarganya dan merasa gembira atas amal shaleh mereka. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW:

1. “Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: ‘Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami’,” (HR. Ahmad dalam musnadnya).

2. “Seluruh amal perbuatan dilaporkan kepada Allah SWT pada hari Senin dan Kamis, dan diperlihatkan kepada para orang tua pada hari Jumat. Mereka merasa gembiran dengan perbuatan baik orang-orang yang masih hidup, wajah mereka menjadi tambah bersinar terang. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menyakiti orang-orang yang telah meninggal dunia,” (HR. Tirmidzi dalam kitab Nawadirul Ushul).

f. Orang yang beriman akan hidup di dalam surga bersama anak-cucu dan keturunan mereka yang shaleh. Hal ini telah Allah jelaskan dalam QS. At-Thur: 21

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Sumber: 1001 Siksa Alam Kubur/Ust. Asan Sani ar Rafif/Kunci Iman/Jakarta/2014.

             💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More
Saudaraku, Tak Ada Dosa Kecil

Saudaraku, Tak Ada Dosa Kecil

♻Umumnya, pengulangan atau pembiasaan dosa itu berawal dari sikap meremehkan dosa.

SAUDARAKU,

Dosa kecil sebenarnya bisa diampuni Allah dengan mudah melalui istighfar dan ibadah mahdhah seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Dosa kecil juga tidak mendapatkan ancaman khusus dan laknat Allah seperti halnya dosa besar.

Saudaraku,

Ada orang-orang yang ketika melakukan dosa kecil ia menganggapnya sebagai hal yang biasa, terhapus dengan sendirinya atau tidak mempedulikannya. “Ah, ini mah dosa kecil.” “Biasa, yang beginian tak menyebabkan masuk neraka.” Dan komentar-komentar sejenisnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Takutlah kalian dari tindakan meremehkan dosa.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani).

“Dosa kecil bisa menjadi besar,” fatwa Imam Auza’I, “jika seorang hamba menganggapnya kecil dan meremehkannya.”

Saudaraku,

Sesuatu yang kecil, jika terus ditumpuk dan dikumpulkan, maka ia akan membesar. Sebuah peribahasa mengatakan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Demikian pula dengan dosa kecil. Jika ia terus diulang, ia pun menjadi besar.

“Bukanlah dosa kecil jika dikerjakan terus menerus,” kata Ibnu Abbas, “dan bukanlah dosa besar jika diiringi taubat.”

Umumnya, pengulangan atau pembiasaan dosa itu berawal dari sikap meremehkan dosa. Lanjutan hadits pada poin 1 di atas menegaskan membesarnya dosa yang terus menerus dikerjakan.

“Sesungguhnya perumpamaan orang yang meremehkan dosa bagaikan sekelompok orang yang singgah di sebuah lembah. Ia datang membawa kayu dn terus menerus membawa kayu hingga (kayu itu menumpuk) mereka dapat memasak makanan mereka.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani).

Saudaraku,

Yaitu orang yang ketika dan setelah melakukan dosa timbul kepuasan dan kesenangan dalam jiwanya.

“Termasuk dosa besar adalah,” kata Imam Ghazali dalam Ihya’, “merasa senang, gembira dan bangga dengan dosa.”

            💐💐💐
══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah & Informasi Seputar Ummat Islam⤵

📡Berita Ummat Islam..
📲Gabung Group WA: ☎085298527223
📝Caranya: BUI#Nama#Kota#Instansi.
👤Khusus Laki-laki (Ikhwah)
💼 Sebarkan! Raih pahala...
Read More